Ringkasan Khotbah : 23 Mei 1999

Kuasa Roh Kudus
Nats : Kisah Para Rasul 1:8
Pengkhotbah : Ev. Rusdi Tanuwidjaya

Ketika membahas Yohanes 16:28, saya telah menyatakan bahwa Kristus datang ke dalam dunia (berinkarnasi) untuk mati di Kalvari karena dosa manusia, dikuburkan dan bangkit. Sebelum kenaikkannya ke sorga Ia menjanjikan untuk mengirimkan Roh Kudus maka setelah 10 hari kemudian Roh Kudus dicurahkan dan mulailah satu era dimana Roh Kudus berkarya melalui para rasul, diaken, dan anak-anak Tuhan. Seorang teolog pernah berkata bahwa hadiah yang terbesar bagi dunia adalah Yesus Kristus, dan hadiah yang terbesar bagi gereja adalah Roh Kudus. Allah Bapa memilih sejak kekal, Yesus Kristus diutus ke dalam dunia untuk mati menggantikan kita dan melalui Roh Kudus orang berdosa dapat percaya serta menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya sehingga kepadanya dikaruniakan segala berkat rohani di dalam sorga.

Dalam nats di atas dikatakan bahwa jika Roh Kudus turun ke atas mereka, mereka akan menjadi saksiNya. Itulah sebabnya, pada kesempatan kali ini kita akan melihat kuasa Roh Kudus yang dikerjakan dalam kehidupan kita, yakni: 1). Kuasa menginsafkan. Roh Kudus datang untuk menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Jika kita tidak diinsafkan akan dosa, kebenaran dan penghakiman, kita tidak mungkin percaya kepada Tuhan. Di dalam perumpamaan tentang penabur, ketika benih ditabur, benih itu jatuh di empat tempat. Benih merupakan simbol dari firman Tuhan dan tanah adalah hati manusia (batu yang keras, tanah yang tipis, tanah di tengah semak duri dan tanah yang baik). Jika fiman jatuh di hati manusia yang keras, tak mungkin terjadi sesuatu perubahan. Ada satu hal yang lebih berbahaya daripada dosa, yaitu orang tidak sadar bahwa dia sedang berbuat dosa di hadapan Tuhan bahkan menikmati dosa. Inilah contoh dari hati yang keras itu.

Ada orang yang setiap kali dalam acara KKR mengangkat tangan, tetapi setiap kali juga jatuh dalam dosa yang sama. Ini merupakan contoh hati yang bertanah tipis. Pada saat mengambil satu komitmen begitu bersemangat, lama-lama semangatnya mulai surut. Jenis ketiga adalah orang-orang yang menyebut dirinya Kristen - dan telah bertahun-tahun menjadi orang Kristen - tetapi tidak bertumbuh oleh karena kekhawatiran dari luar menghimpit dia. Hanya oleh karena Roh Kuduslah hati yagn keras itu dapat menjadi lunak sehingga ia sadar akan kebenaran firman Tuhan, akan kecenderungannya yang berbuat dosa dan mendukakan hati Tuhan.

Roh Kudus bukan hanya menyadarkan seseorang akan dosa, tetapi juga kebenaran. Kristus adalah kebenaran itu sendiri, karena itu Roh Kudus akan memimpin seseorang kepada Krsitus (Yoh 14:6). Hanya di dalam Kristuslah seseorang dapat memperoleh hidup yang kekal dan Roh Kuduspun menyadarkan seseorang akan penghakiman, dimana orang-orang berdosa pasti akan mengalami hukuman Allah. 2). Kuasa Kepemilikan. Dalam Efesus 1:13 dijelaskan bahwa ketika di dalam Kristus dan kita percaya, kita dimeteraikan dengan Roh Kudus dan kita pun menjadi milik Allah. Betapa indahnya semua ini dimana kita orang berdosa yang seharusnya dihukum namun karena kasih Allah kita dipimpin oleh Roh Kudus untuk memperoleh jaminan keselamatan dan hidup kekal di dalam Kristus.

3). Kuasa Pengudusan. Roh Kudus diberikan untuk mengerjakan proses pengudusan dalam kehidupan orang Kristen. Dalam I Kor 1:2, ada dua kata "kudus." Yang dimaksud dengan kudus yang pertama adalah ketika kita percaya kepada Kristus, hubungan kita dengan Bapa dipulihkan, dan hubungan itu telah dikuduskan oleh Bapa. Status kita bukan lagi orang berdosa, tetapi orang yang sudah dibenarkan, dikuduskan namun secara moral kita belum kudus karena kita masih sering jatuh di dalam dosa. Roh Kudus tinggal dalam diri kita bukan ketika kita sudah betul-betul sempurna dan tidak berbuat dosa. Ketika kita percaya kepada Kristus, Roh Kudus tinggal di dalam diri kita walaupun kita masih dapat berbuat dosa. Untuk apa? untuk memampukan kita hidup dalam proses pengudusan.

Manusia berdosa mengalami kerusakan total, dimana seluruh aspek dalam kehidupan manusia mengalami suatu distorsi karena itu Roh Kudus yang tinggal di dalam diri kita, orang percaya memproses pikiran, perasaan dan kemauan kita hingga mengalami penyucian yang terus-menerus. Masalahnya adalah, apakah kita mengijinkan Roh Kudus itu sebagai tuan atas hidup kita atau sebagai tamu? Jika sebagai tamu, Dia tidak mempunyai hak apa-apa atau sangat terbatas akibatnya kita tidak pernah mau mengijinkan Roh Kudus untuk mengubah cara berpikir dan mengarahkan perasaan kita kembali kepada Tuhan serta membawa kemauan kita takluk di bawah kehendak Tuhan. Padahal Roh Kudus seharusnya memerintah atas pikiran, perasaan dan kemauan kita maka di dalam proses itu yang terpenting adalah relakah kita jika Roh Kudus memimpin dan mengarahkan kita kepada apa yang Tuhan mau dan membenci apa yang dibenci oleh Tuhan.

Dalam kehidupan kita banyak misteri yang orang lain tidak tahu, yang tahu hanya tiga yakni Tuhan, diri sendiri dan setan. Karena Tuhan tahu, maukah kita mempersilahkan Roh Kudus melihat ruang hati kita dan membersihkannya dari segala cara-cara yang tidak beres dan kotor? Mulut kita mungkin terarah kepada Tuhan tetapi tindakan kita mengarah kepada setan dan tidak mempermuliakan Tuhan. Jika kita mau dipimpin oleh Roh Kudus, pikiran kita akan semakin dikuasai oleh firman Tuhan, perasaan kita akan semakin mencintai Tuhan dan hati nurani kita semakin dibersihkan dan dimurnikan sehingga kita dapat peka dan mentaati kehendak Tuhan untuk mengalami satu pertumbuhan iman di dalam proses pengudusan.

Ada seseorang yang berkata, "Penyerahan tampak, pemikiran adalah fanatisisme yagn bertindak tetapi pemikiran tampa penyerahan total itu berarti kelumpuhan dalam semua tindakan." Ada orang-orang yang sepertinya berserah, tetapi pikirannya tidak pernah mengerti kebenaran firman Tuhan dan tidak pernah dirombak oleh firman Tuhan. Jika pikiran yang dirombak tampa disertai penyerahan total, maka akan terjadi kelumpuhan dalam semua tindakan akibat tidak adanya keseimbangan pertumbuhan. Apakah orang yang benar-benar percaya ada kemungkinan untuk murtad? Seperti yang kita bahas di atas bahwa di dalam kekekalan Tuhan telah memilih kita dan Roh Kudus memeteraikan kita sebagai jaminan keselamatan yang mutlak bahwa kita akan memperoleh seluruhnnya nanti. Bagaimana kalau kita berbuat dosa? Pada waktu berbuat dosa sebenarnya kita sedang memdukakan Roh Kudus. Maka orang percaya tidak mungkin murtad, tetapi masih bisa berbuat dosa. Jika demikian dimana keadilan Tuhan? Pengampunan dosa tetap diberikan, tetapi pengadilan Tuhan tetap akan dinyatakan di dalam dunia. Misalnya, seseorang yang membunuh dan dimasukkan kedalam penjara, mungkin di kejar-kejar oleh rasa bersalah dalam hatinya. Inilah upah! Apa yang kita tabur, itu yang akan kita tuai dan itu bukan hukum karma melainkan satu konsekuensi dari apa yang telah kita perbuat.

4). Kuasa yang memberikan kemenangan. Pada suatu hari, ketika Pdt. Stephen Tong berkhotbah, ada seorang ahli sihir yang berusaha menyerangnya. Orang ini melihat ada satu cahaya yang keluar dari tangannya - demikianlah pengakuan orang tersebut, dan hanya dia sendiri yang tahu keberadaan cahaya itu - dan mengarah kepadanya. Begitu sudah dekat, mendadak sinar itu lenyap. Karena penasaran, ia mencoba dengan seluruh kemampuannya dan kali ini cahaya itu pecah menjadi dua, dan mendadak orang itu pingsan. Ini membuktikan bahwa kuasa Allah sangatlah besar dalam kehidupan orang percaya (lihat I yoh 4:4). Karena itu, sangatlah tragis jika seorang Kristen begitu takut tidur malam oleh karena telah menonton sebuah film horor yang sangat menakutkan. Padahal I Yoh 4:4 jelas mengatakan bahwa Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia. Dimanakah keberanian kita? Ketika Roh Kudus turun, dengan kuasa Roh Kudus yang mengurapinya Petrus berani berkhotbah. Pada waktu Roh Kudus bekerja, Ia memberikan keberanian kepada kita untuk menghadapi suatu realita.

5). Kuasa Kesaksian. Roh Kudus memberikan kuasa kepada kita untuk menjadi saksi. Kuasa bukan sekedar kemampuan atau kekuatan biasa, tetapi sesuatu yang mendorong kita untuk bertindak. Petrus yang penakut, karena diurapi Roh Kudus, begitu berani untuk menjadi saksi. Jika saya diutus ke tempat terpencil, bagi saya, saya memohon, "Tuhan beri saya kemampuan untuk taat dan pergi ke sana. Saya percaya kuasa Tuhan menyertai saya." Jikalau Tuhan mengijinkan untuk mati di sana, itu adalah anugerah Tuhan.

Gereja zaman itu belum diperlengkapi dengan transportasi yang hebat dan buku-buku yang berbobot teapi heran, dalam waktu yang singkat Injil sudah tersebar hampir ke seluruh dunia sedangkan gereja saat ini, yang sudah diperlengkapi dengan berbagai fasilitas, justru gereja mandul dan lumpuh. Apa sebab? Gereja hanya mengandalkan fasilitas dan tidak mau bersungguh-sungguh bergantung kepada dan mentaati Tuhan dalam hal kesaksian. Karena Roh Kudus sudah dicurahkan, maukah kita menyadari kuasa Roh Kudus yang menginsafkan dan menjadikan kita milik Allah serta masuk ke dalam proses pengudusan dimana kita dapat terus-menerus hidup dalam kemenangan secara rohani, dan pada akhirnya berani untuk memberitakan Injil? Kiranya Tuhan memberikan api kebangunan sehingga menguasai hati, pikiran, kemauan dan seluruh kehidupan sehingga jemaat Tuhan bisa dibangunkan. Amin!?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)