Ringkasan Khotbah : 10 Januari 1999

Bangkit dan Bercahayalah!

Nats : Efesus 5:14-18

Pengkhotbah : Ev. Rusdi Tanuwidjaya

Firman Tuhan di dalam Efesus 5:15 ini harus kita kaitkan dengan ayat 14. Di dalam ayat ini Paulus mengatakan, "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." Di dalam ayat 15 ini seakan-akan Paulus mau mengatakan, "Jika kamu telah bangun dari tidurmu, telah bangkit dari kematian dan sekarang di dalam terang maka berjalanlah secara bijaksana. Atau dengan kata lain, "Karena kamu telah diselamatkan, hendaklah kamu berjalan di dalam bijaksana." Seseorang mungkin berkata, "Tunggu sebentar!" Bagaimana mungkin seorang yang baru percaya kepada Kristus dapat berjalan dalam hikmat? Bukankah kita harus bertumbuh? Menjadi orang Kristen yang bijaksana membutuhkan waktu yang lama. Pertanyaan-pertanyaan ini keliru, karena ayat ini tidak menunjuk kepada orang Kristen yang baru, melainkan Paulus mau mengatakan bagaimana hidup sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan. Disini Paulus sedang mengatakan, "Sejak kamu bangun, hidup dan ada di dalam terang, kamu dapat berjalan secara bijaksana." Di dalam ayat ini kata ‘bangunlah’ merupakan kata yang penting. Kata ‘bangun’ menunjukkan kita sudah ‘hidup’ dan jika kita ‘hidup’ itu berarti kita memiliki ‘kesadaran.’ Jika kita sudah sadar barulah kita bisa ‘bangkit.’ Sesudah bangkit barulah kita bisa bekerja dan Kristus baru dapat ‘bercahaya’ melalui hidup kita. Sayangnya, banyak orang menamakan diri orang Kristen bahkan sudah lama menjadi orang Kristen, namun hidupnya tidak bercahaya di tengah-tengah kegelapan dan hanyut terbuai dalam arus kehidupan serta berada di bawah tekanan dosa, sehingga cahaya Kristus tidak nampak di dalam orang tersebut. Hanya jemaat yang hidup, yang bangun dan yang bangkit barulah Kristus bercahaya di tengah kegelapan.

Agar, Kristus bercahaya di dalam hidup jemaat bukanlah hal yang mudah. Itu sebabnya jemaat yang telah diselamatkan harus menggumulkan beberapa hal: Pertama, jemaat perlu "memperhatikan dengan seksama bagaimana jemaat hidup." Kata "dengan seksama" disini di dalam bahasa Yunani memiliki arti ketepatan atau ketelitian. Jadi hidup dengan seksama disini merupakan kebalikan dari hidup yang sembarangan, tanpa bimbingan dan tidak berpikir dengan sepatutnya, ini yang pertama.

Lebih jauh lagi Alkitab menyatakan, "Janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif." Orang bebal disini bukan berarti orang yang IQ-nya rendah. Tidak! Melainkan orang yang tidak takut akan Tuhan. Secara kognitif mereka mungkin tahu tentang Tuhan bahkan mungkin memiliki pengetahuan Taurat yang cukup baik tetapi melalui kelakuan mereka, mereka menyangkal Allah di dalam hidupnya. Berbicara mengenai orang ateis disini, kita dapat mengelompokkan ke dalam dua golongan. (1) Ateis teoritis yaitu mereka yang secara teori menyangkal keberadaan Allah namun seringkali di dalam kelakuan banyak di antara mereka yang hidupnya lebih baik dari yang menamakan diri orang beragama. (2) Ateis praktis yaitu secara teori mereka menerima keberadaan Allah, namun di dalam kelakuan menganggap seolah-olah Allah tidak ada. Sedangkan yang dimaksud ‘bebal’ menunjuk kepada ateis praktis. Mereka tahu Allah ada namun hidup seolah-olah Allah tidak ada. Jadi secara kognitif mereka tahu Allah ada, namun di dalam kelakuan justru melawan Tuhan.

Selanjutnya, Paulus mengatakan kalimat "tetapi seperti orang arif." orang arif disini harus kita kaitkan dengan PL. Di dalam PL orang arif atau bijaksana seringkali dikaitkan dengan ‘takut akan Allah.’ Orang yang takut akan Allah, di dalam hidupnya pastilah memiliki kepekaan-kepekaan untuk mendengar suara Allah (firman Allah). Jadi orang yang bijaksana disini adalah orang yang menaruh sikap hormat akan Tuhan bukan hanya di dalam pikiran melainkan juga di dalam hati dan kelakuan mereka. Ini yang menjadi salah satu perbedaan antara filsafat Yunani dengan filsafat Ibrani. Di dalam filsafat Yunani lebih menekankan pada aspek teori sedangkan dalam konsep Ibrani filsafat lebih menunjuk ke tingkah laku. Jadi jika dikatakan, "Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan." Ini menunjuk ke aspek sikap manusia dihadapan Tuhan. Jadi orang yang arif atau bijaksana bukan hanya memiliki pengetahuan akan Tuhan melainkan juga menghormati Tuhan di dalam seluruh kelakuan mereka termasuk di dalam merencanakan dan mengarahkan seluruh tujuan hidupnya sesuai dengan kehendak Tuhan dan di bawah pimpinan Tuhan.

Kedua, menggunakan setiap kesempatan yang Tuhan berikan. Istilah ‘waktu’ di dalam Ef 5:16 disini menunjuk pada kesempatan. Dalam bahasa Yunani tidak menggunakan kata ‘kronos’ melainkan ‘kairos’. Jadi di dalam ayat ini mau mengatakan kepada kita ‘pergunakanlah setiap kesempatan yang ada.’ Di dalam dongeng Yunani kesempatan digambarkan dengan dewa kesempatan yang mempunyai rambut di depan. Dan dewa kesempatan ini memiliki sayap dikakinya sehingga jika kita ingin adu lari pasti kalah cepat. Jadi satu-satunya cara bagaimana kita bisa menangkap dewa kesempatan tersebut kita harus menunggu sampai dewa kesempatan itu datang kemudian kita tarik rambutnya. Kita harus betul-betul menggunakan kesempatan tersebut. Terlambat sedikit saja kita tidak dapat menangkapnya lagi. Di dalam bagian ini singkatnya mendorong kita bagaimana kita menggunakan setiap kesempatan yang Tuhan berikan sebaik mungkin. Kesempatan disini bisa mencakup banyak aspek, misalnya kesempatan melayani, PI, dsb. Bukan itu saja Paulus juga mengatakan ‘hari-hari ini adalah jahat’. Secara umum kita dapat melihat bahwa hari-hari di depan kita mengandung banyak sekali potensi untuk melahirkan kejahatan. Sedikit saja kita terpeleset kita bisa berdosa. Secara khusus pada masa hidup Paulus, jemaat Efesus sedang menghadapi penganiayaan dari bangsa Romawi. Supaya Kristus bercahaya ini bukan hal yang mudah. Mereka mengalami kesulitan, tantangan, bahkan penderitaan. Dalam kondisi seperti ini Paulus mengatakan bercahayalah. Tidak mudah kecuali mereka menggunakan setiap kesempatan yang ada sekalipun hari-hari ini jahat."

Ketiga, mengerti kehendak Tuhan. Kata ‘mengerti’ disini tidak dapat dilepaskan dari unsur ratio. Itu berarti sebagai orang Kristen kita perlu menggunakan akal kita untuk mengerti kehendak Allah. Jadi ayat ini menolak dengan tegas pengalaman-pengalaman untuk mengerti kehendak Allah lepas dari cara yang bisa dipertanggungjawabkan. Untuk mengerti kehendak Allah kita perlu mendapatkannya dari sumber yang benar dan dengan cara yang tepat. Sumber yang benar adalah firman Allah caranya yaitu melalui penafsiran yang bisa dipertanggungjawabkan yaitu Alkitab menafsirkan Alkitab. Sedangkan fungsi akal hanyalah sebagai alat untuk kita kembali kepada kebenaran Allah yang sudah diwahyukan melalui Alkitab. Tidak ada satu orang pun yang mau mengerti kehendak Allah lepas dari firman. Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengerti kehendak Allah di dalam firman lepas dari penafsiran. Masalahnya, bagaimana caranya kita menafsirkan Alkitab secara bertanggungjawab. Jika kita keliru dalam menafsirkan maka kita akan menyimpang dari firman yang benar.

Mengerti kehendak Allah ini penting agar kita dapat menyaring setiap ajaran atau tingkah laku yang tidak sesuai dengan firman Allah. Dengan mengerti kehendak Allah kita dapat membedakan apakah itu sesuai dengan kehendak Allah atau tidak. Benar atau salah, mutlak atau relatif, kekal atau sementara, penting atau tidak penting. Setiap jemaat Tuhan perlu mengerti kehendak Allah, dengan demikian kita dapat menguji setiap ajaran maupun tingkah laku kita sesuai dengan paradigma Biblikal.

Keempat, hidup yang terus menerus dipenuhi oleh Roh Kudus. Kalimat "hendaklah kamu dipenuhi Roh Kudus" dalam bahasa aslinya ditulis dalam bentuk present imperatif pasif. Present artinya terus menerus, imperatif suatu perintah, pasif karena kita terus menerus dipenuhi oleh Roh Kudus. Jadi sebagai orang Kristen kita harus terus menerus setiap hari, setiap jam, setiap detik untuk secara aktif menaklukkan diri kita di bawah pimpinan dan inisiatif Allah yang aktif. Jadi kita harus terus menerus secara aktif berada dibawah keaktifan Allah yang memimpin hidup kita. Jikalau poin keempat ini tidak ada di dalam hidup kita sulit bagi kita untuk hidup bercahaya di tengah dunia ini. Kita bukan hanya jadi orang Kristen yang hanya mengamati dengan seksama bagaimana kita hidup, kemudian mengerti kehendak Allah tetapi untuk memiliki sikap hidup yang bijaksana kita perlu mengerti kehendak Allah. Namun kehendak Allah ini baru dapat menjadi realita jikalau kita senantiasa berada di bawah ketaatan aktif kita dibawah ketaatan aktif Allah yang sedang memimpin hidup kita. Jikalau ini ada di dalam pergumulan hidup kita senantiasa maka pastilah Kristus bercahaya melalui hidup kita.

Saudara, memasuki tahun 1999 ini kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita pada tahun ini. Namun satu hal yang pasti masalah, kesulitan, tantangan, dan pencobaan pasti akan kita hadapi dan kita alami. Saya hanya minta, marilah ditengah-tengah ketidakpastian yang akan kita alami pada tahun ini kita tidak meminta kepada Tuhan agar Tuhan angkat semua masalah, kesulitan dan pencobaan yang akan kita alami. Tidak! Karena itu bukan ajaran Alkitab. Tetapi marilah kita terus menerus memperhatikan bagaimana kita hidup jangan seperti orang bebal melainkan seperti orang arif. Dan pergunakanlah kesempatan yang ada untuk menuliskan catatan hidup kita dengan tinta emas kekekalan Tuhan. sekalipun kita berada di dalam kesulitan yang besar. Ingat waktu adalah bahan baku kehidupan, kita pakai atau tidak waktu itu akan berlalu. Marilah kita terus bertekun di dalam mempelajari, merenungkan dan menggumulkan firman Tuhan di dalam hidup kita sehingga kita dapat mengerti kehendak Allah dan berdoa kepada Tuhan agar Tuhan memampukan kita untuk terus menerus taat dibawah pimpinanNya. Bersediakah saudara? Kiranya Tuhan membangunkan, menyadarkan dan memampukan kita untuk hidup bercahaya di tengah dunia yang gelap ini. Amin!?