Ringkasan Khotbah : 19 April 1998
Kekristenan adalah satu agama yang menuntut proses bukan sekedar rutinitas ke gereja. Orang Kristen tidak hanya berhenti ketika kita percaya dan memiliki hidup yang kekal. Menjadi orang Kristen berarti kita harus berproses dan bertumbuh. Disini kita dapat menggambarkan kekristenan bagaikan sebuah pohon yang ditanam lalu berakar dan bertumbuh mulai keluar daun, ranting, lalu berbunga dan kemudian berbuah. Itu sebabnya di dalam Matius 28, Tuhan Yesus memberikan perintah agar para murid pergi menjadikan semua bangsa murid Tuhan, membaptis mereka di dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus serta mengajar mereka melakukan segala yang Tuhan perintahkan kepada mereka.
Hari ini kita akan mempelajari poin kelima dari keenam proses pertumbuhan dalam surat Efesus 1:15-23, yaitu mengenai pengharapan. Konsep kelima ini menjadi kekuatan yang begitu besar di dalam kekristenan. Mengapa? Karena iman Kristen ditegakkan di dalam satu pondasi yang memberi pengharapan paling kokoh yang tidak mungkin disaingi oleh siapapun. Hal ini disebabkan karena pengharapan Kristen ditegakkan di atas pondasi kematian dan kebangkitan Kristus. Salib dan kebangkitan Kristus menjadi dua tonggak yang ditegakkan di dalam sejarah oleh Tuhan, yang membuat kita memiliki pengharapan yang pasti. Kedua hal ini ditegakkan oleh Tuhan di dalam sejarah melalui kematianNya, Kristus sudah mematikan kuasa kematian dan melalui kebangkitanNya, Kristus telah mengalahkan segala kuasa dan melepaskan diri dari segala kuasa. Fakta inilah yang menjadikan kekristenan memiliki pondasi yang tidak pernah mungkin digugurkan oleh zaman.
Manusia tidak mungkin hidup tanpa pengharapan. Seseorang yang kehilangan pengharapan akan masa depan maka orang seperti ini akan kehilangan gairah hidup, daya juang dan dia akan menjadi orang yang skeptik. Itu sebabnya, manusia membutuhkan pengharapan. Yang menjadi masalah, pengharapan kepada siapa? Jikalau kita berharap pada uang, pengetahuan, dan kedudukan, maka akan celaka sekali hidup kita. Mengapa? Karena uang, kedudukan dan pengetahuan bukanlah dasar yang kokoh untuk meletakkan pengharapan kita. Sayangnya, banyak orang dewasa ini telah meletakkan pengharapan mereka pada hal yang keliru dan pada dasar yang rapuh.
Ef 1:18 mengatakan, ”Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilanNya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukanNya bagi orang-orang kudus.” Disini Paulus berdoa agar Tuhan memberikan pada jemaat Efesus mata hati yang terang sehingga jemaat bisa melihat pengharapan yang sejati. Hal ini penting karena banyak orang yang hatinya buta dan gelap sehingga mereka tidak mampu keluar dari pengharapan yang keliru. Ingat iman Kristen tidak bersandar pada uang, intelek, dan kekuasaan. Iman Kristen bersandar pada panggilan Kristus. Hanya kepada Kristuslah kita meletakkan pengharapan kita. Hanya di dalam Kristuslah kita memiliki pengharapan yang sejati, karena Kristus melampaui segala pemerintahan, segala kekayaan maupun segala kekuasaan yang ada di dunia ini.
Pengharapan ini tidak otomatis terjadi. Itu sebabnya tidak heran banyak orang sudah puluhan tahun menjadi orang Kristen tetapi belum sungguh-sungguh meletakkan pengharapan mereka kepada Kristus yang mati dan bangkit. Disinilah pentingnya pengharapan kita harus kembali kepada Kristus. Pada waktu kita kembali kepada Kristus sebagai sumber pengharapan maka ada beberapa hal yang Kristus sediakan.
Pertama, pengharapan ini menjanjikan masa depan yang paling final. Ini yang menjadi dasar mengapa kita tidak meletakkan dasar pengharapan kita pada uang, intelek, maupun kekuasaan. Semua ini tidak final. Tetapi jika kita meletakkan pengharapan kita pada Kristus berarti kita telah meletakkan diri kita pada dasar yang kokoh dan final. Suatu pengharapan yang tidak berubah dan yang telah mengalahkan semua kekuatan dan kekuasaan di dalam alam semesta. Kebangkitan Kristus meneguhkan bahwa Dia sudah menang. Tidak heran, di dalam Fil 3:14 Paulus mengatakan, “Aku berlari-lari menuju tujuan untuk mendapatkan panggilan surgawi yang telah disediakan Allah bagiku.” Inilah pengharapan Paulus. Disini bukan berarti Paulus sudah memperoleh pengharapan tersebut melainkan justru Paulus mengejar pengharapan tersebut. Di dalam dunia ini tidak ada jaminan yang pasti kecuali kita kembali kepada Kristus. Dan sekarang kita sedang berlari menuju pengharapan tersebut. Kita sedang melangkah kepada akhir yang tidak mungkin gagal, kepada final yang telah mengalahkan finalitas palsu.
Kedua, pengharapan kita harus kembali kepada panggilan yang pasti. Panggilan yang pasti ini baru terjadi jika kita kembali kepada sumber yang pasti. Jadi pengharapan yang sejati harus kembali kepada oknum diluar diri saya yang menjadi penentu dan sumber dari semua keberadaan di dalam dunia. Itu sebabnya kita perlu kembali kepada Kristus yang telah memanggil kita kepada pengharapan yang sejati. Oleh sebab itu saudara, penentuan perjalanan hidup kita bukan berada ditangan kita melainkan di dalam satu pribadi yang berada di atas kita. Pribadi yang lebih bijaksana dan lebih tahu. Dalam hal seperti ini, kita harus kembali kepada Tuhan sebagai pemimpin arah hidup kita. Hanya kembali kepada Tuhan sebagai pengharapan yang sejati dan tidak mungkin salah kita baru bisa memiliki pegangan yang kokoh di dalam dunia ini. Jadi pada aspek kedua ini kita harus memindahkan otoritas pengharapan kita bukan ditangan kita melainkan ditangan Tuhan. Dengan cara seperti ini kita baru mempunyai kekuatan di dalam pengharapan kita. Kesulitan iman Kristen yang paling besar adalah ‘mengapa saya tidak bisa bertumbuh.’ Hal tersebut terjadi karena meskipun kita mengatakan kita meletakkan pengharapan kita pada Kristus tetapi pada hakekatnya kita masih terus berpegang pada pengharapan kita. Ini yang mengakibatkan kita tidak bertumbuh di dalam hidup rohani kita. Mari kita menyerahkan pengharapan kita secara total kepada Tuhan dan biarlah Tuhan yang memimpin hidup kita.
Ketiga, pengharapan baru menjadi pengharapan pada waktu kita harus melewati kesulitan. Mengharap pengharapan tanpa mau kesulitan ini satu hal yang keliru. Berharap kepada Tuhan tetapi semuanya mau lancar, ini konsep yang salah. Justru pengharapan harus dinyatakan di dalam melewati lembah bayang-bayang maut. Pengharapan sejati keluar pada waktu kita berada ditempat yang paling gelap. Disitulah pengharapan kita keluar menerobos melihat sesuatu yang tidak kita lihat. Pengharapan ini menjadi kekuatan kita menghadapi lembah kekelaman. Jika kita percaya Tuhan itu hidup seharusnya ini menjadi pengharapan di tengah kita mengalami bayang-bayang maut maupun kesulitan hidup. Di tengah-tengah kesulitan justru pengharapan harus bertumbuh di dalam hidup kita. Kita tidak berharap kepada sesuatu yang mati melainkan kita berharap kepada Tuhan yang sudah mati dan bangkit bagi kita.
Dunia kita makin lama makin sulit. Alkitab mengatakan ada dua hal yang tidak akan pernah merosot dan menjadi dua penyakit yang akan menghancurkan dunia. Pertama humanisme, manusia akan mementingkan dirinya sendiri. Kedua, materialisme, manusia akan cinta uang (II Tim 3:1-2). Dua penyakit ini tidak pernah turun dalam sejarah umat manusia. Oleh sebab itu dunia ini makin lama makin menuju kepada kehancuran. Dalam kondisi dunia yang makin merosot menuju kehancuran, justru anak-anak Tuhan akan makin baik. Namun yang makin baik ini adalah minoritas sedangkan yang turun adalah mayoritas. Yang satu minoritas naik ke surga sedangkan yang mayoritas turun ke neraka. Jika kita membuka mata kita lebar-lebar seharusnya kita sadar di dalam berbagai bidang dunia ini sedang mengalami penurunan dan kehancuran. Tetapi ini jangan membuat kita pesimis. Justru di dalam keadaan seperti ini kita perlu bertanya bagaimana kita bisa menyelamatkan orang lain yang selama ini dalam kehancuran. Bagaimana kita bisa menyadarkan mereka kembali kepada Kristus yang sudah menebus dosa mereka. Inilah panggilan kita! Untuk itu kita sendiri harus memproses pengharapan kita dan melihat kepada Kristus dan buktikan kepada sejarah bahwa kita berharap kepada Kristus. Hanya dengan demikian dapat membuat kita kuat. Maukah saudara? Amin!?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah - RT)