RESENSI BUKU

The Promise of  Hermeneutics

  Roger Lundin, Anthony C. Thiselton, and Clarence Walhout, The Promise of Hermeneutics, Grand Rapids: Michigan: Wm.B. Eerdmans, 1999.

260 hal.; uk.14x21 cm.

ISBN: 0-85364-900-6  

                            oleh: Sutjipto Subeno S.Th., M.Div.

Buku ini merupakan karya kedua dari proyek Calvin Center for Christian Scholarship untuk mengungkapkan bagaimana sumbangsih Teologi Reformed di dalam bidang hermeneutika. Buku pertamanya adalah The Responsibility of Hermeneutics, yang terbit tahun 1985. Tetap dikerjakan oleh tiga profesor yang sama, yaitu Roger Lundin, Clarence Walhout, dan Anthony C. Thieselton.

Buku ini kembali menggunakan pendekatan yang sama dengan buku sebelumnya yaitu evaluasi lanjutan terhadap pendekatan Descartes-Cartesian, dilanjutkan dengan upaya untuk memperdalam dan melihat kembali bagaimana literatur sebagai suatu tindakan (literature-as-action) yang menjadi inti pemikiran dari buku ini, dan kemudian dilanjutkan dengan aplikasinya, khususnya di dalam upaya melihat relevansi dari pendekatan speech-action theory (teori pembicaraan-sebagai-tindakan) di berbagai pemikiran dunia dan sejarah saat ini.

Tesis buku ini adalah bahwa tugas hermeneutika merupakan tugas yang manusiawi, sehingga akan sangat dipengaruhi oleh hal-hal yang juga mempengaruhi semua tugas manusiawi lainnya. Sebagaimana tindakan manusia tidak terlepas dari pengaruh keadaan sekelilingnya, demikian juga hermeneutika. Hal ini disebabkan karena penulisan dan pembacaan teks kitab suci, terjadi di dalam konteks sosial dan historis penulis dan pem­bacanya. Ditekankan bahwa tidak mungkin terjadi hermeneutika tanpa presuposisi atau adanya unsur subyektivitas penulis maupun pembacanya.

Di dalam bagian pertama, ketika melakukan evaluasi terhadap pendekatan hermeneutika Descartes-Cartesian, Roger Lundin memberikan satu wawasan yang penting, yaitu hermeneutika Kristen lebih dari sekedar penelitian secara mekanis dan tradisional, tetapi perlu disadari bahwa setiap upaya penafsiran tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan yang harus dibangun terlebih dahulu. Mengutip St. Agustinus, credo ut intelligam penulis menekankan bahwa iman seseorang terhadap Alkitab akan sangat mempengaruhi penafsirannya.

Di dalam bagian kedua, Clarence Walhout menekankan bentuk hermeneutika naratif (Narrative Hermeneutics). Disini teks tidak bisa dilepaskan dari konteksnya, khususnya dengan penulisnya. Kita harus menolak keras konsep “the death of the author” yang di­pa­parkan oleh para filsuf postmodern, seperti Derrida dan Ricoeur. Mengutip Walterstorff, penulis menekankan pentingnya kita mempertimbangkan peranan penulis di dalam sebuah narasi, karena mau tidak mau, narasi itu memang adalah narasi dari sang penulis. Namun, sangat sayang, di dalam pembahasan ini, tidak diperdalam dalam hermeneutika Alkitab, untuk tidak hanya melihat penulis seperti Musa atau Paulus, tetapi Allah Roh Kudus sebagai Penulis Agung dibalik semua pewahyuan Alkitab, yang membedakan antara Firman Tuhan dan semua kitab lainnya. Disini kita perlu mengerti bagaimana maksud sang Penulis Agung melampaui pembaca pada waktu penulisan, tetapi maksud Penulis Agung bagi setiap manusia di segala zaman. Inilah yang membedakan antara Hermeneutika Alkitab dan hermeneutikan buku sekuler. Disini peranan Kedaulatan Allah yang menjadi inti doktrin Reformed menjadi signifikan. Sayang sekali, kesan yang didapat justru buku ini tidak lebih dari buku hermeneutika sekuler.

Mengutip Plantinga, pe­nu­lis menekankan kembali bahwa hermeneutika harus didasarkan pada suatu keper­cayaan yang terjamin yang kita pegang. Disini dikaitkan antara teks dan pembacanya. Karena kebenaran yang lintas waktu ditolak, maka kini kebenaran lebih dikaitkan kepada pengalaman, dan sebagai dasarnya, lebih disandarkan pada etika. Sayangnya, ketika melakukan pendekatan terhadap firman, penulis justru melarikan hermeneutika kepada “kebenaran kemerdekaan ialah kasih.” Di dalam kasih itu, kita mendapatkan kebenaran yang memerdekakan kita dari semua pembedaan, sehingga kita bisa bersatu tanpa perlu takut akan terjadinya kesesatan. Jawaban ini justru melarikan diri dari panggilan hermeneutika yang sesungguhnya. Jika hanya sebatas ini, hermeneutika tidak menjanjikan apa-apa kecuali persaudaraan dalam relativitas. Disini penulis gagal melihat peranan Roh Kudus di dalam mencerahkan pembaca untuk mengerti firman Tuhan, seperti yang Tuhan Yesus sendiri ungkapkan dalam Matius 13:10-13. Justru hermeneutika Kristen melihat peranan ini begitu besar, sehingga pengertian teks dan konteks, penulis dan pembaca, justru terkunci pada peranan Roh Kudus. Orang sehebat Nicodemus tidak mungkin mengerti firman Tuhan, tanpa ia diterangi oleh Roh Kebenaran. Jika “penafsiran berdasarkan pengalaman” ditegakkan di atas etika, padahal etika harus dibangun dari firman Tuhan yang sedang ditafsirkan, maka terjadi proses-perusakan-diri yang tak terhindarkan. Sayangnya proses ini belum terbahas dalam buku ini, sehingga keunikan penafsiran Reformed yang menekankan sola scriptura, sola fide dan sola gratia tidak terlihat.

Di dalam bagian terakhir ini, Thiselton menyodorkan ringkasan dari ‘hermeneutika janji’ (hermeneutics of promise) yang mereka bicarakan: (1) Merupakan hermeneutika yang membentuk suatu “dunia” ketimbang menggambarkan dunia fakta atau fiksi; (2) Merupakan hermeneutika yang mencoba mengkaitkan antara sejarah masa lampau dan pengharapan dan arah masa depan; (3) Tulisan Alkitab bukan membicarakan teori dan metode hermeneutika, tetapi berbicara secara terutama tentang manusia dan pengharapan­nya; (4) pengujian ketat terhadap teori hermeneutika dan teologi dari tulisan Alkitab akan menolak otonomi teks dan lebih menekankan relasi dan tanggung jawab manusia.

Sangat disayangkan justru ketiga penulis kelihatannya sangat menolak kritik yang sangat baik yang dilemparkan oleh Kevin Vanhoozer (Is There a Meaning in This Text?, Zondervan), dan lebih mempercayai pendekatan dari para tokoh postmodern seperti Gadamer, Heidegger dan Ricoeur, yang tidak lagi melihat peranan Roh Kudus, sifat absolut Firman Tuhan dan keutamaan Wahyu di dalam Alkitab.

Memang buku ini membukakan banyak wawasan untuk kita tidak terkunci dengan pendekatan mekanis di dalam melakukan penafsiran Alkitab. Perlu disadari bahwa pengenalan teks tidak bisa dilepaskan dari konteks penulis dan penerimanya. Namun, sekali lagi perlu lebih jauh disadari bahwa yang dimaksud sebagai penulis, bukan hanya penulis duniawi Alkitab, tetapi Roh Kudus sebagai Penulis dibalik Penulis, dan pembaca bukan hanya pembaca yang lokal, tetapi pembaca yang universal dengan tujuan universal pula dari teks Alkitab tersebut. Alkitab bukan buku yang ditujukan hanya untuk memuaskan keinginan penulisnya, suatu ambisi mengemukakan suatu pandangan, tetapi suatu kebenaran yang dibutuhkan untuk manusia mengerti bagaimana harus hidup, sebagai satu ciptaan yang Allah berikan, bagaikan sebuah buku manual dari sebuah mesin. Disini kelihatannya penulis terjebak pada aspek historis penafsiran dan gagal melihat pengertian yang lebih jauh dari hakekat Alkitab itu sendiri. Tepat sekali komentar dari profesor D.A. Carson bahwa dengan mempelajari buku ini dengan cermat, kita akan mengerti bentuk pemikiran postmodernisme, khususnya dalam hermeneutika Kristen.?