www.griis.org/readybread.htm

 

73  

2 - 8 Juni 2003

 

2 Samuel 18 - 24

   
 
PENGANTAR

   

Usia lanjut bukanlah jaminan terhadap kedewasaan atau kebebasan dari kesalahan. Seperti yang dikatakan oleh Elihu kepada Ayub, “Bukan orang yang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat, bukan orang yang sudah tua yang mengerti keadilan” (Ayub 32:9). Kitab 1 dan 2 Samuel yang mencatat kemenangan-kemenangan Daud yang menjadikan dia raja yang sangat berhasil memberikan keamanan dan kesejahteraan kepada negerinya, ternyata ditutup dengan catatan kejatuhannya kembali ke dalam dosa dan penghukuman dari Tuhan. Manusia memang cenderung paling lengah segera setelah keberhasilan dan hidup dalam ketenangan.

Pada dirinya sensus bukanlah suatu dosa, hal ini pernah diperintahkan Allah kepada Musa, tetapi sensus yang diperintahkan Daud di sini dilihat sebagai hal yang keji, bahkan oleh orang seperti Yoab (2Sam. 24:3). Alkitab tidak merinci apa persisnya dosa dalam tindakan sensus ini. Kita hanya dapat menduga bahwa ini merupakan dosa kesombongan. Daud menghitung rakyatnya di masa damai karena ia ingin mengetahui (menghitung-hitung) berapa besar keberhasilan yang telah ia capai dalam hidupnya. Bukankah ia telah melakukan banyak prestasi dalam hidupnya, melebihi raja Saul. Akibat kesombongannya inilah Tuhan menghajar Daud dan rakyatnya.

“Tetapi berdebar-debarlah hati Daud, setelah ia menghitung rakyat…” (24:10). Sebelum hukuman dijatuhkan hati nurani Daud sudah menegurnya yang memperingati dia tentang ketidaksenangan Allah atas apa yang diperbuatnya. Ketika ini terjadi, sebenarnya ia sedang dalam perjalanan menuju pemulihan. Begitu sadar, Daud segera mengakui dosanya di hadapan Allah. Inilah yang menjadikan Daud seorang yang berkenan di hati Allah. Ia tidak sempurna, tetapi sampai pada akhir hidupnya ia memiliki suatu hati yang peka kepada Allah. Walaupun berbuat kesalahan, tetapi ia mau memperbaikinya.

Tuhan mengampuninya, tetapi ia tetap harus melihat konsekuensi dari perbuatannya, penyakit sampar selama tiga hari membinasakan tujuh puluh ribu orang (24:15). Pertanyaannya mengapa hukuman itu tidak menimpa Daud dan keluarganya, tetapi menimpa rakyat (24:17)? Alasannya terdapat dalam 2 Samuel 24:1. Dalam kedaulatan-Nya, Allah yang hendak menghukum orang Israel (dosa mereka tidak disebutkan), memakai niat jahat Iblis untuk membujuk raja Daud sehingga ia jatuh ke dalam dosa (1Taw 21:1). Sebagai akibat kesalahannya, Daud harus melihat hukuman Allah dijatuhkan, yang ditimpakan ke atas seluruh bangsa yang berdosa itu. Tetapi Ia segera mengasihani dan mengampuni mereka, bahkan sebelum hamba-Nya menyatakan pertobatannya dengan penuh kesungguhan (24:16-17). Daud diperintahkan mendirikan mezbah untuk mempersembahkan korban di tempat pengirikan Arauna agar tulah itu berhenti. Dan ketika Arauna mau memberikan tempat itu secara cuma-cuma kepadanya ia menolaknya, karena ia tidak mau mempersembahkan korban kepada Tuhan tanpa membayar apa-apa (24:24). Walaupun seorang yang tidak lepas kesalahan, tetapi Daud adalah orang yang siap untuk kembali kepada Tuhan dengan sepenuh hati untuk dipulihkan, itulah yang menjadinya seorang yang berkenan di hati Tuhan.

 

 

RENUNGAN MINGGU INI

Senin | 02 Juni 2002

2 Samuel 18:1-19:8 (1) Apa yang kita pelajari tentang cacat karakter Yoab? Bagaimana penilaian dan sikap Daud kepadanya (1Raj. 2:5-6)? (2) Absalom mendirikan tugu peringatan bagi dirinya, tetapi mati sebagai pemberontak yang mengkudeta orangtuanya dan dikubur di bawah tumpukan batu (18:17-18). Apa pelajaran dari kehidupan Absalom? (3) Mengapa kesedihan yang diungkapkan Daud dalam konteks ini merupakan tindakan yang salah dan merupakan ungkapan kelemahannya sebagai seorang ayah yang adalah juga seorang pemimpin negara?

 


 


 


 


Selasa | 03 Juni 2002

2 Samuel 19:9-43 (1) 19:15-23. Apa yang kita pelajari dari sikap Daud terhadap Simei? Dalam konteks (alasan) apa Daud mengampuni dia (19:22)? Apakah Simei sama sekali lepas dari hukuman atas kesalahannya mengutuki raja yang diurapi Tuhan (1Raj. 2:8-9,39-46)? (2) 19:24-30. Jika cerita Mefiboset adalah benar, apa yang dapat kita pelajari tentang kepribadiannya (lih. 19:24,30)? (3) 19:31-39. Apa yang kita pelajari dari sikap Daud terhadap orang yang telah membantunya (1Raj. 2:7)?


 


 


 


Rabu |  04 Juni 2003

 

2 Samuel 20. (1) Mengapa Daud mengutus Abisai dan bukannya Yoab untuk mengatasi pemberontakan Seba bin Bikri (20:6-7)? Kejahatan apa yang kembali dilakukan Yoab (20:8-13; 1Raj. 2:32-33))? (2) Apa yang dapat kita pelajari dari hikmat perempuan yang bijaksana ini?


 


 


 


Kamis |  05 Juni 2003

2 Samuel 21 (1) 21:1-14. Mengapa usaha Saul untuk memusnahkan orang Gibeon merupakan suatu dosa (bdk. Yosua 9)? Apa akibatnya terhadap seluruh bangsa Israel, pada umumnya (21:1-2), dan terhadap keturunannya, pada khususnya (21:3-9)? Apa pelajaran bagi kita? (2) 21:15-22. Apa yang dapat kita pelajari dari catatan kemenangan Daud atas tentara Filistin yang menjadi ancaman utama umat Israel pada waktu itu?


 


 


 


Jumat | 06 Juni 2003

2 Samuel 22 (1) 22:1-7. Apa arti keberadaan Tuhan bagi Daud dalam perjalanan hidupnya yang penuh kesulitan itu? Apakah ini juga yang kita alami? (2) 22:8-20. Apa jawaban Tuhan atas doa Daud? (3) 22:21-30. Kehidupan seperti apa yang diusahakan oleh Daud? Bagaimana Tuhan membalas orang yang hidup dalam kemurnian dan yang hidup dalam kejahatan? Apakah kehidupan seperti Daud ini yang Anda rindukan? (4) 22:31-51. Apa yang kita pelajari tentang Tuhan, tentang orang yang bersandar kepada-Nya, dan apa yang didapatkan orang yang bersandar kepada Tuhan?


 


 


 


Sabtu | 07 Juni 2003

2 Samuel 23 (1) 23:1-7. Apa yang kita pelajari mengenai pemerintahan suatu negara yang dikehendaki oleh Tuhan? Apa yang dimengerti Daud tentang anugerah yang dicurahkan kepadanya dan keturunannya? (2) 23:13-17. Apa yang kita pelajari dari cinta dan pengabdian triwira ini kepada Daud? Bagaimana Daud menunjukkan kasih dan penghargaannya kepada mereka? (3) Apa yang kita pelajari mengenai kepemimpinan Daud atas perwira-perwira yang luar biasa ini?


 


 


 


Minggu |  08 Juni 2003

2 Samuel 24 (1) Apa yang Anda mengerti tentang kesalahan Daud dalam sensus itu (24:1-9)? Apa akibat dosa raja Daud terhadap bangsa Israel (24:15-17)? (2) Apa yang dilakukan Daud ketika menyadari kesalahannya? Apakah pengampunan Tuhan berarti tidak adanya hukuman? Apa peringatan bagi kita? (3) Apa yang kita pelajari tentang dosa bangsa Israel yang mendatangkan murka Allah, kedaulatan Allah dalam penghu­kuman-Nya dan keputusan yang salah dari raja Daud (24:1)? (4) Apa yang kita pelajari dari Daud dalam pernyataan­nya di 2Sam 24:24?


 


 


 


     

 

ARTIKEL MINGGU INI

Bagaimana Kristus sebagai Penebus Kita Mencapai Keselamatan bagi Kita: Pembahasan tentang Kematian, Kebangkitan, dan Kenaikan-Nya ke Sorga.

(bagian keempat dari lima tulisan)

Pengakuan Iman Rasuli kita selanjutnya berbunyi, “pada hari yang ketiga, bangkit pula dari antara orang mati.” Tanpa kebangkitan, kematian Kristus tidaklah lengkap, karena hanya akan ada kelemahan yang tampak di salib, kematian, dan penguburan-Nya. Ada tiga berkat dari kematian dan kebangkitan Kristus: (1) Walaupun melalui kematian-Nya, Ia telah menggenapi karya keselamatan, sehingga kita didamaikan dengan Allah, kutuk disingkirkan, dan penghukuman dilunasi, namun hanya melalui kebangkitan-Nya, kemenangan atas kematian dicapai. Kitab Suci mengajarkan bahwa melalui kematian-Nya, dosa telah dihapuskan dan kematian dikalahkan; namun melalui kebangkitan-Nya, kebenaran dipulihkan dan kehidupan diberikan kembali. Itulah sebabnya Paulus berkata, “Yesus … telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenar­an kita” (Rm. 4:25). Karena itu, kita perlu senantiasa mengingat bahwa setiap kali kata kematian saja yang disinggung maka kita harus mengerti di dalamnya juga termaksud kebangkitan, demikian juga sebaliknya. Karena dalam dua hal yang merupakan kesatuan inilah keselamatan kita disandarkan, “Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembe­la (mediator) kita” (Rm. 8:34). (2) Kita mematikan kedagingan kita berdasarkan perseku­tuan kita di dalam kematian-Nya, namun harus diingat bahwa kita menerima berkat tersebut juga melalui kebangkitan-Nya (Rm. 6:4). Kita yang sudah mati bersama Kristus harus mematikan perbuatan daging kita (Kol. 3:3,5), namun kita juga telah dibangkit­kan bersama Kristus supaya dapat mencari hal-hal yang di atas (Kol. 3:1-2). (3) Kebang­kitan Kristus memberikan kepastian jaminan pada kebangkitan kita (1Kor. 15:12-26).

“Naik ke sorga.” Kebangkitan secara tepat segera dikaitkan dengan kenaikan-Nya ke sorga. Setelah menjalani penyaliban yang hina, Kristus melalui kenaikan-Nya mulai menunjukkan kemuliaan dan kuasa-Nya secara penuh (Ef. 4:10). Ia naik ke sorga supaya dapat terus bersama kita dalam suatu cara yang lebih berguna daripada kehadiran-Nya selama di dunia ini (Yoh. 7:37-39;14:18-19). Ia yang telah naik ke sorga adalah yang tetap hadir bersama kita dalam kemuliaan yang kita lihat dengan mata iman. “Duduk di sebelah kanan Allah, Bapa yang mahakuasa” merupakan gaya bahasa yang menggam­barkan Kristus yang telah diangkat dalam kemuliaan oleh Bapa, yang melalui tangan-Nya Bapa menyerahkan pemerintahan sebagai Tuhan atas segala yang ada di sorga dan di bumi, sampai pada waktunya Ia akan turun ke bumi pada Hari Penghakiman (Ef. 1:20-21; Flp 2:9; 1Kor. 15:27).

Berkat yang kita peroleh melalui kenaikan Kristus: (1) Naiknya Kristus ke sorga membuka jalan menuju kerajaan sorga yang sebelumnya tertutup karena dosa Adam (Yoh. 14:3). Karena Kristus telah naik ke sorga, kita tidak lagi menantikan sorga sebagai harapan kosong, tetapi dengan kepastian yang penuh keyakinan karena Kepala kita telah berada di sana. (2) Kristus yang berada di sorga dan di hadapan Bapa adalah Pembela dan Jurusyafaat kita yang setia (Ibr. 7:25; 9:11-12; Rm. 8:34). (3) Dengan iman kita melihat kuasa Kristus yang bekerja di antara kita yang percaya kepada-Nya, memberikan kepada kita Roh yang menghidupkan, melimpahi gereja-Nya dengan berbagai karunia rohani, melindungi gereja dari segala kecelakaan, dan mengalahkan musuh-musuh-Nya. (John Calvin, Institutes of the Christian Religion, II. 16, disadur oleh syo)

 

It is the highest worship of God … when we acknowledge God’s goodness by thanksgiving.

"IBADAH SEJATI YANG DAPAT KITA TUJUKAN KEPADA ALLAH IALAH DENGAN MENGAKUI SETIAP KEBAIKAN-NYA DENGAN UCAPAN SYUKUR."

John Calvin.

       
       
       

(c) 2003, GRII-Andhika , Andhika Plaza C/5-7, Jl. Simpang Dukuh 38-40 Surabaya, Indonesia

Tlp. +62-31-5472422   Fax. +62-31-4549275  Site: www.griis.org   Email: info@griis.org