www.griis.org/readybread.htm

 

70  

12 - 18 Mei 2003

 

1 Samuel 17 - 27

   
 
PENGANTAR

   

Setelah Saul ditolak oleh Allah, Tuhan memilih Daud sebagai pengganti Saul. Allah memilih sendiri seorang yang berkenan di hati-Nya. Tetapi bagaimana Daud dapat berkenan kepada Tuhan, padahal ia sendiri memiliki banyak kelemahan dan melakukan kesalahan-kesalahan yang fatal? Allah mempersiapkan hamba-Nya melalui suatu proses pembentukan yang panjang. 1 Samuel mendeskripsikan kepada kita jalan panjang yang harus dilalui Daud untuk sampai ke takhta. Walaupun telah diurapi oleh Samuel bagi jabatan raja, tidak ada perubahan berarti yang terjadi dalam kehidupan Daud. Ia masih bekerja sebagai penjaga kambing domba orangtuanya sambil menjadi pemusik Raja Saul. Bahkan setelah mengalahkan Goliat dan masuk ke dalam lingkungan kerajaan sebagai seorang yang kemampuannya sangat diperhitungkan, ia tetap bukan pemegang jabatan terpenting dalam kerajaan. Setelah dianggap dapat menjadi ancaman bagi keluarganya Saul terus-menerus berusaha membunuhnya, dan mulailah suatu masa penuh kesulitan dan ancaman dalam kehidupan Daud sebagai pelarian dan musuh negara. Tetapi justru melalui semua pengalaman inilah Tuhan mengajar Daud mengenai ketidakmampuannya dan kebergantungan kepada Tuhan, membangun kerohaniannya dan membentuk karakternya, serta melatih dan mempersiapkan dia menjadi seorang raja yang takut akan Tuhan. Ketika pemerintahan Saul semakin tidak sesuai dengan prinsip dari Tuhan, Daud menolak menggunakan cara manusiawi untuk merebut takhta, bahkan tidak mengulurkan tangannya untuk mencabut nyawa Saul ketika kesempatan itu terpampang di hadapannya, sebaliknya ia membiarkan tangan Tuhan yang melakukan hal itu. Kehidupan Saul dan Daud merupakan kontras dari dua karakter dan cara menyikapi jalan hidup serta nasib yang berbeda. Saul mulai dengan segala keunggulan dan menanjak dalam kemuliaan sebagai raja, tetapi mengakhiri hidupnya secara mengenaskan; sebaliknya Daud mulai dengan segala kerendahan dan mengalami banyak kesulitan, namun akhirnya ia menjadi seorang raja ideal yang didambakan umat Israel di sepanjang masa.

Yonatan adalah pribadi lain dalam kitab ini yang memiliki keagungan jiwa yang jarang ditemukan. Walaupun memiliki kemampuan yang tinggi, seorang yang disertai Tuhan, dan menjadi pewaris takhta Saul, tetapi ketika melihat pemilihan Tuhan atas diri Daud, dia dengan lapang hati menerima kenyataan itu dan tidak mengalami konflik batin seperti yang dialami oleh ayahnya yang berusaha membinasakan Daud. Hal ini karena Yonatan seorang yang mengakui kedaulatan Tuhan. Kualitas karakter Daud dan Yonatan inilah yang membuat persabahatan mereka menjadi salah satu persabahatan paling agung dalam sejarah manusia. Sebagian orang yang pikirannya telah dikotori oleh dosa zaman modern, tidak dapat melihat ketulusan, kemurnian, dan keagungan dalam persahabatan dua orang gentlemen ini sehingga menuduh keduanya memiliki hubungan homoseksual. Namun hal ini tidak mungkin terjadi karena Kitab Suci yang mengutuk homoseksualitas menunjukkan perkenanan Tuhan  atas kedua orang ini, dan menggambarkan keduanya sebagai orang rohani yang takut akan Tuhan; dan yang memiliki karakter yang tinggi dan hidup menurut prinsip-prinsip keutamaan (virtues). Hilangnya persahabatan sejati, khususnya, di antara umat Allah pada masa sekarang (yang hanya terobsesi dengan kasih eros) merupakan fakta yang menyedihkan.

 

 

RENUNGAN MINGGU INI

Senin | 12 Mei 2002

1 Samuel 17 (1) 17:1-25. Apa dampak teror Goliat terhadap pasukan Israel (17:11,24)? (2) 17:26-39. Bagaimana sikap/respons Daud terhadap cemooh Goliat (17:26)? Apa yang membuat hati Daud terbakar dengan kemarahan yang suci? Dari mana munculnya keyakinan Daud bahwa kemenangan ada di pihak tentara Tuhan? (3) 17:40-54. Apa yang kita lihat mengenai iman, kemampuan dan kecerdikan Daud dalam mengalahkan Goliat dengan gemilang. Apa yang dapat kita pelajari dari Daud dalam hal ini?

 


 


 


 


Selasa | 13 Mei 2002

1 Samuel 18:1-19:17 (1) Kontraskan sikap Saul kepada Daud (18:9-15,28-29) dengan sikap Yonatan dan rakyat kepada Daud (18:1-4,16), apa yang salah pada sikap Saul? Perlukah Saul takut kepada Daud? Pernahkah Daud berusaha membunuhnya dan menjatuhkan dia? Kepada siapakah seharusnya Saul harus takut? (2) Apa akibat kedengkian Saul terhadap  dirinya, keluarganya, kerajaan­nya (19:1-7,11-17)? (3) 18:12-16,28-29. Apa yang kita lihat tentang penyertaan Tuhan dalam diri Daud? Bagaimana seharusnya sikap Saul kepada orang yang disertai Tuhan, adakah gunanya memusuhi orang yang disertai Tuhan (23:17)?


 


 


 


Rabu |  14 Mei 2003

1 Samuel 19:18-20:42 (1) 19:18-24. Apa yang kita pelajari mengenai kuasa perlindungan Allah atas hamba pilihan-Nya? (2) 20:14-17. Pengertian apa yang dimiliki Yonatan tentang pemilihan Tuhan atas diri Daud dan bagaimana ia menyikapinya. Sebagai penerus takhta Saul, mudahkah hal ini ia lakukan? Apa yang membuat sikapnya berbeda dari ayahnya? (3) Kemukakan kualitas moral-rohani Yonatan dan Daud yang melandasi persahabatan mereka? Apa yang dapat kita pelajari dari salah satu persahabatan mereka?


 


 


 


Kamis |  15 Mei 2003

1 Samuel 21-22 (1) Apa akibat kegagalan Daud untuk mencari petunjuk Allah pada masa-masa awal pelariannya (21:1-15; 22:22)? Perubahan apa yang terjadi kemudian (22:3-5,23)? (2) 22:6-19. Apakah Anda melihat adanya korelasi antara kejatuhan Saul yang semakin mendekat dengan perbuatannya yang keji dan tidak masuk akal terhadap para imam dan penduduk Nob? Apa peringatan bagi kita? (3) 22:20-23. Walaupun Daud mengaku bersalah atas malapetaka yang menimpa keluarga Abyatar, mengapa Abyatar mau datang berlindung kepadanya?


 


 


 


Jumat | 16 Mei 2003

1 Samuel 23-24 (1) Apa yang menjadi ciri setiap tindakan Daud pada masa-masa ini (23:2,4,9-12)? Apa yang kembali kita pelajari mengenai perlindungan Tuhan yang ajaib terhadap hamba pilihan-Nya (23:14-27)? (2) 23:15-18. Apa yang dapat kita pelajari dari sikap Yonatan terhadap Daud dan kebesaran jiwanya? (3) 24:1-8a. Walaupun terus diburu, bagaimana Daud memperlakukan Saul, apa alasan utama sikapnya itu (24:6-7,11)? Sebutkan kualitas moral dan karakter yang ditunjukkan oleh Daud dalam kejadian ini yang menunjukkan kebesarannya (24:8b-23)? Apa kualitas Daud yang Anda rindu untuk miliki?


 


 


 


Sabtu | 17 Mei 2003

1 Samuel 25 (1) Kemukakan kebodohan-kebodohan Nabal yang harus kita hindari? (2) Dalam hal apakah kebijaksanaan Abigail ditunjukkan dalam kisah ini? Apa yang kita pelajari mengenai kesigapannya dalam menghadapi situasi kritis, tindakan dan perkataannya yang bijaksana saat menghadap Daud? (3) 25:15-16. Apa yang dapat kita pelajari mengenai disiplin pasukan Daud dan kemampuan kepemimpinan Daud?


 


 


 


Minggu |  18 Mei 2003

1 Samuel 26-27 (1) 26:1-25. Dari cara Daud menghadapi pengejaran Saul tanpa membunuhnya, apa yang kita pelajari mengenai keberanian Daud, kerohanian­nya, kecerdikan strategi politisnya, dan penyertaan Tuhan atas dirinya? (2)  Dapatkah kita membayangkan kesulitan yang dialami Daud, dan kecerdikannya untuk bertahan hidup? Apa manfaat semua kesulitan ini bagi pembentukan rohani Daud dan pengaruhnya terhadap gubahan mazmur-mazmurnya yang luar biasa itu? Apa pelajaran bagi kita?


 


 


 


     

 

ARTIKEL MINGGU INI

Bagaimana Kristus sebagai Penebus Kita Mencapai Keselamatan bagi Kita: Pembahasan tentang Kematian, Kebangkitan, dan Kenaikan-Nya ke Sorga.

(bagian pertama)

 

Setiap kali berbicara mengenai Sang Penebus kita harus mengerti bahwa kita adalah manusia berdosa yang terhukum dan binasa dalam dosa, yang harus mencari kebenaran, kelepasan, dan keselamatan kita di dalam Dia. Inilah sebabnya Rasul Petrus berkata, “Keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4:12). Nama “Yesus” yang diberikan kepada-Nya, bukannya tanpa alasannya, malaikat menjelaskan bahwa Dialah yang akan “menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mt. 1:21). Santo Bernard berkata, “Nama Yesus bukan hanya terang tetapi juga makanan; ia juga minyak, yang tanpanya semua makanan bagi jiwa akan terasa kering; ia adalah garam, yang tanpanya semua penyedap rasa akan terasa kurang; ia juga adalah madu di mulut, melodi di telinga, kesukaan di hati, dan pada saat yang sama juga adalah obat. Setiap pembicaraan di mana nama-Nya tidak disebutkan akan menjadi hambar.”

Perenungan terhadap karya Kristus menyadarkan kita tentang murka Allah yang akan tetap berada di atas diri kita jika dosa dan kesalahan kita tidak dihapuskan.  Kesadaran akan murka Allah ini membuat kita bersyukur atas kasih-Nya dalam Kristus. Kitab Suci mengajarkan bahwa Allah yang merancangkan anugerah-Nya yang limpah bagi kita adalah Musuh kita sampai kita didamaikan dengan-Nya melalui Kristus (Rm. 5:10). Kita berada di bawah kutuk sampai kesalahan kita ditebus melalui pengorbanan Kristus (Gal. 3:10,13). Kita terpisah dari Allah sampai didamaikan melalui darah salib Kristus (Kol. 1:21-22). Kita telah menjadi budak dosa dan budak Iblis, berada di bawah murka Allah,  terlepas dari berkat Allah, tanpa pengharapan keselamatan sampai Kristus melepaskan kita dari hukuman Allah yang adil, melepaskan kita dari belenggu dosa dan cengkeraman Iblis, dan melalui penebusan-Nya mendamaikan kita dengan Allah. Semua gambaran mengenai kebinasaan luar biasa yang darinya kita dilepaskan ini harus membuat kita semakin menghargai anugerah keselamatan Kristus. Dan karena hati kita sering tidak bersyukur atas anugerah Allah yang kita terima, maka akal budi kita perlu digentarkan oleh ketakutan terhadap murka Allah dan kengerian kematian kekal, baru setelah itu kita tidak lagi meremehkan berkat keselamatan yang dikaruniakan kepada kita dalam Kristus.

Allah Sang Kebenaran tertinggi tidak dapat mengasihi ketidakbenaran yang Ia lihat terdapat dalam diri kita, dan selama kita adalah orang berdosa, Ia tidak dapat menerima kita. Namun dalam kasih-Nya Ia telah menyingkirkan semua penyebab permusuhan dan mendamaikan kita dengan diri-Nya, Ia menghapuskan semua kejahatan kita melalui penyucian yang dikerjakan-Nya dalam kematian Kristus; sehingga kita yang sebelumnya najis, dapat datang ke hadapan-Nya sebagai orang yang telah dibenarkan dan disucikan. Kita dapat kembali bersatu dengan Allah, karena Kristus telah menyatukan kita dengan diri-Nya. Dengan demikian betapa ktia bergantung kepada Kristus.

Kasih Allah dinyatakan dengan memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk mati menebus kita (Yoh. 3:16). Namun bukan setelah kita didamaikan melalui darah Anak-Nya Allah baru mulai mengasihi kita, sebaliknya, Dia telah mengasihi kita sebelum dunia diciptakan (Ef. 1:4-5). Kita telah didamaikan dengan Dia yang mengasihi kita, yang sebelumnya adalah musuh kita karena dosa. Inilah kebenaran yang dikatakan oleh Rasul Paulus, “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:8). (John Calvin, Institutes of the Christian Religion, II. 16, disadur oleh syo).

 

His people must wait as long as God pleases to exercise them under the cross.

"UMAT ALLAH HARUS MENANTIKAN DENGAN SABAR SELAMA IA BERKEHENDAK MENDIDIK MEREKA DI BAWAH SALIB-NYA."

John Calvin.

       
       
       

(c) 2003, GRII-Andhika , Andhika Plaza C/5-7, Jl. Simpang Dukuh 38-40 Surabaya, Indonesia

Tlp. +62-31-5472422   Fax. +62-31-4549275  Site: www.griis.org   Email: info@griis.org