www.griis.org/readybread.htm

 

30  

5 - 11 Agustus 2002

 
Mazmur 36 - 41    
 
PENGANTAR
   

Mazmur Keluhan Pribadi. Banyak mazmur yang dapat dimasukkan ke dalam kategori mazmur ini. Mazmur Leluhan Pribadi memiliki komponen yang hampir sama dengan Mazmur Keluhan Umat, antara lain: (1) seruan minta tolong kepada Allah (Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap dan tidak menolong aku, 22:2); (2) keluhan atas situasi yang ia hadapi, seringkali diungkapkan dengan sangat puitis (Banyak lembu jantan mengerumuni aku; banteng-banteng dari Basan mengepung aku ..., seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya, 22:15; dan dalam debu maut Kauletakkan aku, 22:13,16c); (3) pengakuan kepercayaan kepada Allah (KepadaMulah nenek moyang kami percaya; mereka percaya, dan Engkau meluputkan mereka, 22:5, lih juga ay 10-11); (4) permohonan, kadang diungkapkan sebagai harapan, seperti “Kiranya Tuhan...”, namun lebih sering sebagai permohonan dalam bentuk imperatif, seperti “dengarlah”, “ingatlah”, selamatkanlah” (Janganlah jauh dari padaku, sebab kesusahan telah dekat, dan tidak ada yang menolong .... Tetapi Engkau, Tuhan, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku! Lepaskanlah aku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing, 20:12, 20-21); (5) Jaminan Tuhan akan mendengarkan doanya (Sebab Ia tidak memandang hina atau merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas ... Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepadaNya, 22:25); (6) Nazar untuk memuji Tuhan atas kelepasanNya (Aku akan memasyurkan namaMu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah, 22:23, band. 22:26-27). 

Pemazmur mengeluh karena merasa ditinggal oleh Allah (22:2). Teologinya yang didukung oleh tradisi dan pengalaman sejarah nenek moyangnya (Allah telah melakukan karya penyelamatan besar bagi nenek moyangnya) nampak tidak sejalan dengan pengalamannya. Allah yang dipercaya tidak akan mengabaikan umatNya yang setia (22:6), mengabaikan dia, saat ia sakit dan nyaris mati (22:15-16) dan menghadapi ejekan musuh yang sepertinya tak terbantahkan. Dia yang telah bersandar kepada Allah sejak dari lahir (22:10-11), saat mengalami krisis, ternyata tidak ada pertolongan dari Allah. Kepercayaannya seperti tidak ada gunanya. Serangan musuh itu membuat dia bergumul berat dan sangat menderita (22:13-19), apakah imannya kepada Allah itu benar atau salah? Tetapi dalam keadaan seperti itu, pemazmur tetap mengangkat jiwanya dalam doa kepada Tuhan; kini ia beralih dari perspektifnya sendiri kepada perspektif Allah: Allah adalah Raja atas semesta alam, yang memerintah seluruh urusan dunia ini (ay 29), inilah yang dilupakan pemazmur saat ia merasa diabaikan (ay 2) dan menyetujui anggapan musuh (ay 8-9). Kini ia tahu bahwa Allah tidak menghina penderitaannya; ia tahu bahwa Allah sungguh mendengarkan dia dan akan menjawab dia, karena itulah pemazmur memuji Tuhan dan bersyukur kepadaNya dan akan memberitakan Allah kepada para jemaat.

 

 

RENUNGAN MINGGU INI

Senin | 5 Agustus  2002

 

Mazmur 36 (1) 36:2-5. Prilaku jahat apa yang harus kita waspadai agar tidak mendapat tempat dalam hati dan kehidupan kita? (2) 36:6-13. Berkat apa yang mengalir dari kasih setia Tuhan kepada umatNya? Apakah kita hidup menikmati berkat-berkat ini? Orang seperti apakah yang akan mendapatkan berkat-berkat ini?

 


 


 


 


Selasa 6 Agustus  2002

Mazmur 37:1-20 (1) Hal-hal apa kita dinasehati untuk tidak melakukannya dan apa alasannya (ay 1-2, 8-9? (2) Nasehat positif apa yang diberikan pemazmur dan apa janji yang terkandung di dalamnya (ay 3-4, 5-6, 7, 1-11)? Sejauh mana kita menuruti nasehat ini? (3) Seperti apa kelakuan orang fasik dan bagaimana akhir hidup mereka; kontraskan dengan kehidupan orang benar dan bagaimana akhir hidup mereka?

 


 


 


 


Rabu | 7 Agustus  2002

Mazmur 37:21-40 (1) Apa yang dikatakan pemazmur mengenai kehidupan orang benar dan keuntungan yang akan mereka terima? (2) Atas hal apa keselamatan orang benar didasarkan baik di masa lalu, sekarang, dan yang akan datang (ay 22-24, 28, 33, 39-40)?

 


 


 


 


Kamis |  8 Agustus  2002

Mazmur 38 (1) Ketika menghadapi kelemahan fisik dan mental yang berat, lalu dijauhi para sahabat dan kerabat, dan diserang oleh musuh, langkah pertama apa yang dilakukan oleh pemazmur (ay 2, 19; 16, 22-23)? (2) 38:14-16. Bagaimana dia menyikapi permusuhan yang ditujukan kepadanya?

 


 


 


 


Jumat |  9 Agustus  2002

Mazmur 39 (1) 39:2-4. Apakah kita telah belajar seni mendisiplin lidah seperti yang ditunjukkan oleh pemazmur? Apakah pentingnya lidah dalam kehidupan manusia? (2) 39:8-14. Menyadari kefanaan dan kesia-siaan hidup manusia (ay 5-7), kemanakah pemazmur mengarahkan pengharapannya dan kepada siapa ia mengarahkan pengharapannya? Dan apa yang ia minta dari Tuhan?


 


 


 


Sabtu |  10 Agustus  2002

Mazmur 40 (1) 40:2-4. Sebutkan apa yang telah diperbuat Allah bagi pemazmur yang menjadi alasan baginya untuk memuji Tuhan? Apa dampak kelepasan ini terhadap orang yang menyaksikannya? (2) 40:5-6. Mengapa orang yang menaruh kepercayaan kepada Tuhan disebut berbahagia? (3) 40:7-11. Seperti apakah penyembah yang berkenan kepada Tuhan itu? (4) 40:12-18. Apa alasan pemazmur memerlukan pertolongan Tuhan? Apa yang ia minta kepada Tuhan?


 


 


 


Minggu |  11 Agustus  2002

Mazmur 41 (1) 41:2-4. Apa janji Allah bagi orang yang memperhatikan dan menolong sesamanya yang lemah? (2) 41:6-10. Orang-orang yang mengunjungi pemazmur waktu ia sakit justru menambah kesengsaraannya dengan sikap mereka yang munafik; apakah ketika kita mengunjungi orang yang berada dalam kemiskinan, menderita dan sakit keras, kita tidak menjadi batu sandungan? (3) Apa yang meyakinkan pemazmur bahwa akhirnya ia akan mendapatkan kemenangan dari musuhnya?

 


 


 


 


     

 

ARTIKEL MINGGU INI

Kehendak Manusia dalam Keadaannya Sekarang telah Dirusak, dan

Tunduk kepada Perbudakan yang Sangat Mengasihankan

(bagian ketiga dari tiga tulisan)

 

Dosa tidak sama dengan ketidaktahuan tetapi dapat disebabkan oleh delusi. Ketika Paulus menegaskan bahwa “dengan itu mereka menunjukkan bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka“ (Rm 2:14-15), ia mengatakan bahwa orang kafir telah mengetahui kebenaran hukum moral yang terukir dalam hati mereka, dan tidak sama sekali buta mengenai bagaimana mereka seharusnya hidup. Tetapi apa tujuan pengetahuan ini diberikan kepada manusia? “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat” (Rm 2:12). Karena tidak mungkin bagi orang kafir itu binasa tanpa pengetahuan akan yang benar dan salah, maka Paulus menunjukkan bahwa hati nurani mereka menyediakan tempat bagi hukum Taurat, karena itu cukup bagi penghakiman yang adil, dan manusia tidak dapat berdalih. Dengan kata lain, hati nurani dapat menentukan apa yang benar dan yang salah sehingga manusia tidak dapat berdalih ketika kesalahannya dihakimi. Jadi kita menolak pendapat Plato bahwa manusia berdosa karena ketidaktahuan. Betapa sering, orang sebenarnya sudah tahu apa yang lebih baik dan benar tetapi justru memilih melakukan yang salah dan buruk.

Kita tidak dapat menganggap setiap pertimbangan universal mengenai apa yang baik dan salah yang umumnya diterima orang banyak selalu benar dan sempurna. Jika kita memeriksa rasio kita dengan hukum Allah, yang merupakan hukum yang paling sempurna, maka kita akan menemukan banyak hal yang kita hargai adalah hal yang salah. Kita juga menolak pandangan mereka yang mengatakan bahwa semua dosa muncul dari kejahatan yang direncanakan, sebab ternyata kita sering melakukan kesalahan walaupun maksud kita itu baik. Rasio kita dipenuhi dengan penipuan dalam berbagai macam bentuk sehingga tidak mungkin dapat dijadikan sebagai penuntun yang pasti (2Kor 3:5). Pikiran manusia telah jatuh dalam kesia-siaan (Mz 94:11; Kej 6:5; 8:21). Dalam kehidupan betapa jelas pikiran kita selalu tertuju kepada hal-hal yang sia-sia. Bahkan setelah dilahirkan kembali kita masih perlu senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah, agar tidak tergelincir dari pengetahuan yang benar. Ini merupakan kesaksian dari Paulus (Kol 1:9; Flp 1:4) maupun Daud (Mz 119:34).

Ketidakmampuan manusia dalam menginginkan yang baik. Sekarang kita kembali memeriksa kehendak yang membuat pemilihan. Apakah kehendak kita dalam setiap bagiannya telah demikian dirusak sehingga tidak lagi menghasilkan sesuatu yang baik kecuali kejahatan, atau ia masih mempertahankan sedikit bagian yang tidak tercemar yang dapat menjadi sumber keinginan baik. Mendasarkan pada Rm 7:18-19, sebagian orang mengatakan bahwa kita dapat memiliki kemampuan untuk menginginkan yang baik, hanya terlalu lemah sehingga tidak mampu dilakukannya. Tetapi ini merupakan penafsiran yang keliru, karena apa yang dimaksudkan Paulus dalam ayat itu ialah penjelasan mengenai konflik keinginan daging dan keinginan roh yang terus terjadi dalam batin orang Kristen. Ini sesuai dengan penegasan Kej 8:21, bahwa apa yang dihasilkan hati manusia hanyalah kejahatan semata. Augustinus mengatakan: Akuilah bahwa segala sesuatu yang kita miliki itu kita dapatkan dari Allah; bahwa segala kebaikan yang kita miliki adalah dari Dia, namun apa pun yang jahat adalah berasal dari kita.” Dalam kata lain, ia mengatakan: “Tidak ada sesuatu yang berasal dari kita, kecuali dosa.” (John Calvin, Institutes of the Christian Religion, II.2, disadur oleh syo)

 

The best fruit of afflictions is, when we are brought to purge our minds from all arrogance, and to bend them to meekness and modesty.

"BUAH TEBAIK DARI PENDERITAAN IALAH, JIKA AKAL BUDI KITA DIMURNIKAN DARI SEGALA KECONGKAKAN DAN MENJADIKANNYA LEBUT DAN RENDAH HATI."

John Calvin.

       
       
       

(c) 2003, GRII-Andhika , Andhika Plaza C/5-7, Jl. Simpang Dukuh 38-40 Surabaya, Indonesia

Tlp. +62-31-5472422   Fax. +62-31-4549275  Site: www.griis.org   Email: info@griis.org