www.griis.org/readybread.htm

 

137  

EZRA 1-10

 
23-28 Agt 2004    
 
PENGANTAR

 

Garis Besar Kitab Ezra

I. Kembali dari Pembuangan untuk membangun kembali Bait Suci (1-6)

Kembali dari Pembuangan (1-2)

Pembangunan kembali Bait Suci (3-6)

II. Kembalinya Ezra dan Pembangunan kembali komunitas umat Allah (7-10)

Kembalinya Ezra (7-8)

Pembangunan kembali komunitas (9-10)

   

Pada mulanya Kitab Ezra dan Kitab Nehemia merupakan satu kitab, seperti yang ter­dapat dalam Kitab Ibrani, Talmud, dan tulisan Yosefus, dan naskah Septuaginta yang lebih tua (terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani). Origen (185-253 M) ada­lah orang pertama yang membagi Ezra dan Nehemia menjadi dua kitab yang terpisah. Menurut tradisi Yahudi penulis/penyusun Kitab Ezra dan Kitab Nehemia adalah Imam Ezra.

Tujuan keseluruhan dari Kitab Ezra dan Nehemia ialah untuk menegaskan bahwa Allah bekerja secara berdaulat melalui manusia yang bertanggung jawab untuk meng­ge­napi tujuan penyelamatan-Nya. Koresy mengeluarkan ketetapannya karena digerakkan oleh Roh Allah (1:1). Orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem karena digerakkan oleh Roh Allah (1:5). Ezra berhasil menjalankan tugasnya karena tangan Allah yang penuh kemu­rahan menyertai dia (7:9). Artahsasta mendukung pekerjaan pembangunan kembali, itu karena Tuhan yang menggerakkan hatinya (7:27).

Kitab Ezra dan Nehemia dapat dilihat sebagai kelanjutan kisah sejarah Israel dalam 2 Tawarikh. Jika Kitab 2 Tawarikh diakhiri dengan pembuangan Yehuda ke Babel, maka Kitab Ezra-Nehemia mengisahkan kembalinya orang-orang Yahudi ke negeri mereka. Peristiwa yang dilaporkan dalam kedua kitab ini mencakup masa sekitar seratus tahun, yaitu dari ketetapan Koresy bagi orang Yahudi untuk kembali ke Yerusalem (538 SM) hingga tahun ke tiga puluh dua pemerintahan Artahsasta (432 SM). Kitab-kitab lain yang termasuk dalam periode ini ialah Kitab Ester, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi.

Catatan kisah orang-orang Yahudi yang kembali dari pembuangan ini dapat dibagi menjadi tiga periode: Pertama (Ez. 1-6), kembalinya orang-orang buangan di bawah pim­pinan Zerubabel (Sesbazar) dan Imam Besar Yesua (537 SM) hingga selesainya pembangunan bait Allah (515 SM); Kedua (Ez. 7-10), kembalinya kelompok yang lain di bawah pim­pinan Imam Ezra, dan pelayanan Ezra di Yerusalem (458 SM); Ketiga (Neh. 1-13),  Ne­he­mia kem­ba­li ke Yerusalem dan memimpin pembangunan tembok kota, dan melayani ber­sama-sama dengan Ezra (444-425 SM).

Ezra dan Nehemia adalah hamba Allah yang dibangkitkan oleh Allah pada masa yang kritis dalam sejarah Israel. Ezra adalah seorang imam yang saleh, seorang pelajar hukum Taurat yang mahir, yang dipakai Tuhan untuk memperbarui kehidupan umat me­lalui penga­jaran Taurat. Nehemia adalah seorang pejabat sipil dan patriot sejati yang mengabdikan dirinya untuk memperbarui moralitas bangsanya dan pembangunan fisik negerinya. Walaupun keduanya sama-sama mengerjakan pelayanan yang sangat bernilai, tetapi pekerjaan Ezra lebih bertahan, karena ia menempatkan hukum Allah sebagai oto­ritas tertinggi dalam kehidupan umat Allah.

RENUNGAN MINGGU INI

Senin | 23 Agustus 2004

Ezra 1-2 (1) Apa yang kita pelajari tentang kuasa Allah yang men­du­duk­kan se­se­orang kepada suatu kekuasaan tertinggi dan menga­rahkan kepu­tus­an­nya un­tuk meng­genapi ketetapan-Nya; dengan demikian memenuhi apa yang Ia janji­kan melalui mulut hamba-Nya (1:1; bdk. Yer. 25:11-12; 29:10; Dan. 9:2; Ul. 30:1-5)? (2) Apa yang diakui Ko­resy tentang ke­dau­latan Allah dalam perin­tahnya? Ke­­mu­rah­an apa yang dilakukan oleh Ko­resy, sehingga ia disebut se­ba­gai hamba Allah yang melak­sa­nakan kehendak Allah (Yes. 44:28; 45:13)? (3) Siapa yang ber­tanggung jawab melaksa­na­kan pembangunan kem­bali Bait Suci dan kota Yerusa­lem?


 


 


 


Selasa | 24 Agustus 2004

Ezra 3 (1) Sistem pengorbanan merupakan sarana untuk memelihara hubungan kovenan (Ibr. 9:22). Umat Allah itu menjalankan persembahan korban bahkan se­­be­lum Bait Allah selesai dibangun. Apa yang kita lihat tentang kerinduan me­re­ka untuk pemulihan hubungan dengan Allah? (2) Apa signifikansi pembang­unan kembali Bait Allah bagi pemenuhan janji Allah untuk memulihkan mere­ka? Ba­gaimana respons umat dalam mendukung pekerjaan tersebut? Bagaimana pe­ra­saan mereka saat melihat diletakkannya dasar Bait Allah?


 


 


 


Rabu | 25 Agustus 2004

Ezra 4 (1) Apa alasan Zerubabel menolak tawaran keikutsertaan lawan mereka untuk membangun bait Allah? Siapakah yang bertanggung jawab untuk mem­bang­un bait Allah? Sejauh mana bantuan orang luar untuk membang­un­ bait Allah boleh diterima? Apa prinsip kita di dalam menolak per­se­kutuan dengan orang yang tidak seiman dengan kita? (2) Apa akibat tentangan musuh terhadap pembangunan bait Allah? Berdasarkan sejarah masa lalu Yerusalem, apakah mu­suh-musuh umat Allah itu memiliki alasan yang kuat untuk menuduh mere­ka? Apa pelajaran bagi kita (bdk. Tit. 2:7-8)?


 


 


 


Kamis | 26 Agustus 2004

Ezra 5-6 (1) Kapan pembangunan bait Allah dan tembok Yerusalem kembali di­lak­sa­nakan dengan serius? Apa signifikansi pelayanan nabi-nabi Allah (5:1-2; 6:14; Hag. 1:12-14)? (2) Apa yang mem­be­ri­kan kepada mereka kekuatan, se­hingga tidak terhentikan oleh kesulitan dan hambatan musuh-musuh (5:5)? (3) Dari jawaban orang-orang Yahudi kepada la­wan mereka, pengertian rohani apa yang telah mereka pelajari (5:11-17)? (4) Apa yang kita lihat tentang provi­densia Allah sehingga pem­bangunan ini akhirnya da­pat diselesaikan (6:6-12; 22)?


 


 


 


Jumat | 27 Agustus 2004

Ezra 7 (1) Apa yang pelajari tentang Ezra, keahliannya, tekadnya, dan pe­nyer­taan Tuhan kepadanya? Teladan apa yang harus dipelajari oleh para pengajar firman dari Ezra (7:10)? (2) Motivasi apa yang mendorong Raja Artahsasta men­du­kung pembangunan bait Allah dan pe­layanan ibadah di dalamnya (7:23; bdk. 6:10)? (3) Apakah kita juga menyaksikan kemurahan Allah dinyatakan da­lam kehidupan umat-Nya di Indonesia, sehingga mendatang puji-pujian kepada-Nya (7:27-28)? Apa yang dapat kita pelajari dari tokoh-tokoh penting Yahudi pada masa pembuangan?


 


 


 


Sabtu | 28 Agustus 2004

Ezra 8 (1) Mengapa dia meno­lak pengawalan tentara kerajaan? Apa yang kita pelajari dari iman Ezra? Mengapa Ezra merasa perlu melakukan puasa? (2) Apa yang diakui Ezra sebagai penentu keberhasilan dalam setiap langkah dan perbu­at­annya? (3) Berapa kali ungkapan “tangan murah Allah melindungi dia” mun­cul dalam kitab ini? Apa makna hal ini bagi kehidupan dan pelayanan Ezra? Apa yang dapat Anda pelajari?


 


 


 


Minggu | 29 Agustus 2004

Ezra 9-10 (1) Mengapa Ezra menanggapi kawin campur itu sebagai dosa ke­ti­daksetiaan kepada Allah (9:11-15; Ul. 7:1-11; bdk. juga Yoh. 4:22? Bagaimana Per­jan­jian Baru melihat masalah ini setelah kedatangan Juruselamat (Ef. 2:18-19)? (2) Apa yang mereka lakukan untuk menyatakan pertobatan mereka (10:3)? (3) Apa yang kita pe­lajari dari doa Ezra: dosa apa yang ia akui; apa akibat dosa; apa yang ia katakan tentang kemurahan Allah?


 


 


 


     

 

ARTIKEL MINGGU INI

Dengan Kusa untuk Mmebuat Hukum Paus dan para Pendukungnya telah melakukan Tirani dan Pembantaian yang Keji terhadap Jiwa Umat

(bagian kedua)

 

 

Ibadah yang begitu sederhana pada zaman para rasul, misalnya Perjamuan Tuhan, di kemudian hari telah ditambah dengan berbagai ritual hingga berlebihan dan ti­dak sesuai dengan ajaran Kitab Suci. Pendapat bahwa apa yang dilakukan melalui per­se­tu­juan ber­sama dalam gereja universal telah diturunkan dari para rasul, ditolak oleh Au­gus­tinus. Misalnya, pendapat tentang air suci yang dikatakan berasal dari para rasul, pada faktanya bukan­lah demikian. Argumen mereka (dengan mengutip Kisah 15:20) bah­wa jika para rasul dan penatua gereja purba dapat membuat ketetapan di luar pe­rin­tah Kristus, maka mereka pun boleh melakukan hal yang sama adalah kesimpulan yang sa­lah, karena para rasul itu sama sekali tidak menambah sesuatu yang baru dari diri mereka pada hukum Allah yang kekal untuk dibebankan kepada umat. Apa yang dilakukan oleh para rasul ti­dak lain daripada menekankan hukum ilahi agar kita tidak memberi beban yang tak terpi­kulkan kepada saudara kita dan tidak menjadi batu sandungan bagi mereka.

Tradisi dan peraturan buatan manusia dalam ibadah dicela dalam Kitab Suci dan oleh Kristus sendiri. Walaupun hukum-hukum yang dibuat kaum Romanis tidak absah dan mem­bebani, tetapi me­reka bersikeras bahwa semua itu harus ditaati. Tetapi hal ini diten­tang oleh Tuhan, yang telah melepaskan kita dari perhambaan. Ibadah yang dilakukan menurut peraturan buatan manusia adalah penolakan ter­hadap ketuhanan Kristus (Mat. 15:9). Kita harus menyembah Allah menurut cara yang Ia perin­tah­kan. Ibadah yang me­nyimpang merupakan kejijikan bagi Allah. Orang yang menyembah Allah me­nu­rut per­atur­an buatan manusia, walaupun menun­juk­kan ke­rendahan hati, sebenarnya tidak sung­guh-sungguh rendah hati di hadapan Allah. Cara-cara manusia telah menjadikan agama dipenuhi dengan ketakhayulan yang tidak masuk akal, dan merusak umat, seperti efod yang dipakai Gideon, bukan saja menghancurkan dirinya dan ke­lu­ar­ganya, tetapi juga seluruh umat (Hak. 8:27). Terhadap orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang meletakkan begitu banyak beban yang tidak perlu pada umat, Tuhan memperingatkan para murid untuk ber­hati-hati terhadap ragi orang Farisi, yaitu ajaran mereka yang telah dicampur. Tuhan ti­dak menginginkan hati nurani umat-Nya dibebani oleh tradisi yang menjadi ciri-ciri orang Farisi.

Fakta bahwa hati nurani tidak sepatutnya diikat oleh tradisi manusia bukan berarti se­mua hu­kum yang mengatur kehidupan gereja harus dihapuskan. Hukum dan per­aturan me­miliki ­manfaatnya yaitu supaya kehidupan gereja dapat tertata dengan rapi dan sopan, se­perti dikatakan Paulus, “Segala sesuatu harus dilakukan de­ngan sopan dan teratur” (1Kor. 14:40). Namun ketaatan kepada hukum-hukum ini jangan dianggap sebagai sya­rat kese­la­­matan, dan menjadi keharusan dalam beribadah kepada Allah dan beroleh kesalehan. Inilah ciri-ciri dari per­a­turan gereja yang absah, yaitu jika melaluinya dalam perkumpul­an orang percaya yang ku­dus segala sesuatu berlangsung dengan sopan dan berdignitas; kedua, komunitas diatur secara manusiawi dan toleransi. Ibadah yang sejati membawa kita langsung kepada Kristus, menghasilkan kesalehan, dan hormat pada hal-hal kudus.

Saya menerima hanya peraturan manusia yang didasarkan pada otoritas Allah, yang bersumber dari Kitab Suci, dan karena itu, sepenuhnya bersifat ilahi. Allah tidak berke­nan pada disiplin yang hanya bersifat lahiriah dan aturan yang mendetail dalam beriba­dah. Orang Kristen wajib menaati peraturan yang benar dengan hati nurani yang bersih, kesalehan dan hati yang taat, tanpa dicemari oleh ketakhayulan. Tetapi semua peraturan ini tidak boleh mengikat kita sebagai hambanya, sebab kita adalah anak-anak yang merdeka. Hanya melalui pengajaran firman yang setia, kita akan dihin­darkan dari kesalahan. (John Calvin, Institutes of the Christian Religion, IV.10., disadur oleh syo)

 

True religion differeth from feigned religions, because the word of God alone is the rule thereof.

"AGAMA SEJATI BERBEDA DENGAN AGAMA-AGAMA YANG PALSU, DALAM HAL AGAMA SEJATI MENJADIKAN FIRMAN ALLAH SEBAGAI SATU-SATUNYA PATOKAN."

John Calvin.

     
       

(c) 2003, GRII-Andhika , Andhika Plaza C/5-7, Jl. Simpang Dukuh 38-40 Surabaya, Indonesia

Tlp. +62-31-5472422   Fax. +62-31-4549275  Site: www.griis.org   Email: info@griis.org