renungan >>

 

 

PENGANTAR

 

1-7 Desember 2003 | Ayub 32-42

Printer Friendly Version

  99

 

 

<< previous

 

 

 

 

Ketika memikirkan masalah penderitaan, hal yang ingin orang ketahui ialah mengapa hal itu terjadi, atau lebih pribadi, mengapa penderitaan menimpa saya? Sayangnya kitab ini tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Berbagai penjelasan yang diberikan dalam kitab ini ialah: penderitaan kadang diberikan sebagai hukuman atas dosa, sebagai peringatan atas perbuatan dosa yang akan dilakukan di masa yang akan datang (supaya dihindari), dan kadang, seperti dalam kasus Ayub, alasannya hanya diketahui oleh Allah.

Salah satu permasalahan yang dibahas dalam kitab ini ialah apakah ada yang disebut innocent suffering (penderitaan yang dialami oleh seorang yang tidak bersalah). Ketiga sahabat Ayub menegaskan bahwa penderitaan Ayub merupakan hukuman atas dosanya, sehingga ia didesak untuk bertobat dan bukannya terus-menerus menegaskan ketidakbersalahannya dan memprotes Allah. Walaupun kitab ini menegaskan bahwa sering kali penderitaan merupakan penghukuman atas dosa, tetapi penderitaan Ayub bukan terjadi akibat dosanya, hal ini selain ditegaskan oleh Ayub sendiri (6:30; 9:15), juga ditegaskan oleh penulis (1:1), dan di atas semua itu, ditegaskan oleh Allah sendiri (1:8; 2:3; 42:7-8).

Perhatian utama dalam kitab ini berkenaan dengan penderitaan ialah bagaimana sikap saya dalam menghadapi penderitaan? Terhadap pertanyaan ini, kitab ini memberikan dua jawaban yang saling melengkapi. Jawaban pertama, yang diberikan dalam dua pasal pertama kitab ini. Menyikapi bencana yang menimpanya Ayub dengan tenang menerima kehendak Allah dengan penuh ketaatan; ia memuliakan Allah bukan hanya atas apa yang Ia beri, juga atas apa yang Ia ambil (1:21; 2:10). Respon Ayub yang pertama ini merupakan model bagi orang-orang lain yang menderita.

Tetapi Ayub tidak tetap dengan sikap penerimaan itu. Menghadapi penderitaan yang berat itu, terjadilah kegoncangan yang luar biasa dalam jiwa Ayub. Ia merasakan kepahitan dan kemarahan, ia merasa diabaikan oleh Allah, bahkan dianiayai oleh Allah. Ayub tidak berusaha menekan atau menyembunyikan perasaannya ini. Ia mengungkapkan keluhannya kepada Allah, ia menanyakan alasan dia mengalami semua penderitaan itu. Apa yang membuat respons Ayub yang kedua ini menjadi model bagi orang-orang yang menderita ialah karena Ayub selalu mengarahkan diri-Nya kepada Allah. Ia tidak kehilangan imannya kepada Allah. Walaupun marah terhadap Allah karena mengalami penderitaan yang begitu berat, ia tidak berpaling dari Allah, ia tetap seorang anak yang yang mengakui bahwa Allah-lah Penebusnya, Saksinya, dan Pembelanya yang hidup. Ia mencari jawaban hanya dari Allah, yang dianggapnya sebagai yang bertanggung jawab, baik secara langsung maupun tidak langsung, atas penderitaan yang ia alami. Memang, Ayub bersalah dengan mengucapkan kata-kata yang tanpa pengertian tentang Allah, sehingga ia menyesalinya di kemudian hari, tetapi hal itu masih diterima oleh Allah, dan tidak menjadikan dia dihukum. Bagaimanapun Ayub menunjukkan dirinya tetap setia kepada Allah, walaupun mengalami penderitaan yang begitu berat, dan sampai akhirnya, ia memuliakan Allah.