next >>

 

ARTIKEL MINGGU INI

  86

 

 

<<renungan

 

 

Kita Dilahirbarukan Melalui Iman: Pertobatan Berakar di dalam Iman

(bagian keempat)

 

 

Buah-buah pertobatan yang sejati akan menghasilkan kasih kepada Allah dan kasih terhadap sesama, serta kekudusan dan kemurnian hidup. Singkat kata, semakin sungguh-sungguh seorang mengukur dirinya berdasarkan standar hukum Allah, tanda pertobatan yang ditunjukkannya pun semakin meyakinkan. Tetapi seperti yang sering ditunjukkan oleh para nabi, pertobatan sejati dimulai bukan di dalam ritus keagamaan yang lahiriah, tetapi di dalam disposisi/sikap batin. Allah melihat ke dalam hati kita. Karena itu dalam berurusan dengan Allah, tidak ada yang akan kita dapatkan kecuali kita pertama-tama memiliki sikap batin yang benar. Itulah sebabnya Nabi Yoel berseru, “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu...” (Yl. 2:13; bdk. Yak. 4:8). Namun demikian, terdapat ungkapan lahiriah yang akan menolong kita dalam mewujudkan pertobatan (sikap yang tegas/keras terhadap dosa), di mana kita merendahkan hati, meratap dan menangisi dosa kita, menjauhi pencobaan dosa dan kesenangan dosa. Tetapi ketika kita melakukan semua ini, janganlah hal-hal lahiriah ini terlalu disandari dan dijadikan begitu kaku sehingga menjadi lebih keras dari panggilan gereja yang lembut.

Pertobatan pada intinya adalah berbaliknya seluruh hati kepada Allah, bukan hanya berpuasa dan meratap yang kadang menyertai perubahan disposisi/sikap hati ini. Pertobatan yang dinyatakan secara lahiriah, seperti “berpuasa, menangis, dan mengaduh” (Yl. 2:12) sering kali sangat diperlukan, baik pada masa Perjanjian Lama maupun pada masa kini, yaitu untuk menunjukkan kerendahan hati dan kesungguhan hati untuk memohon kemurahan Allah, khususnya ketika kita berada di bawah ancaman murka Allah atau ketika berada ancaman malapetaka karena dosa-dosa kita. Namun demikian, janganlah hal yang lahiriah itu dijadikan sebagai hal yang terutama.

Pertobatan jangan disalahartikan secara dangkal, sehingga bukan lagi sebagai suatu tindakan hati yang berbalik kepada Allah dan pengakuan atas kesalahan kita, dan bersamaan itu memohonkan Tuhan mengampuni kita. Ketika kita mengikuti panggilan untuk “bertobat dan berkabung” (Mt. 11:21) berarti kita tidak berkenan pada diri kita sendiri, karena murka Allah atas kita yang melakukan dosa yang menyedihkan Dia. Kita melakukan pengakuan dosa secara publik karena kita menghukum diri kita di hadapan malaikat dan dunia, dan mengantisipasi penghukuman Allah. Itulah yang dikatakan oleh Paulus, “Jika kita menguji [menghakimi] diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita” (1Kor. 11:31).

Bukan hanya kesalahan yang kita lakukan setiap hari yang harus kita akui, tetapi juga dosa-dosa yang lebih menyedihkan, termasuk mengakui dosa-dosa masa lalu kita yang selama ini terkubur dan belum diakui; misalnya, Daud, ketika ia merenungkan kehidupannya, ia mengakui dosa masa mudanya (Mz. 25:7), bahkan merujuk hingga dosanya sebelum ia dilahirkan (Mz.51:5-7). Kita harus mengerti bahwa panggilan pertobatan terdiri dari panggilan pertobatan kepada orang yang telah mati rohani untuk kembali kepada Allah sehingga dihidupkan kembali; tetapi juga terdapat pertobatan setiap hari di mana orang percaya terus menerus memerangi kerusakan naturnya setiap hari.

Pertobatan dan pengampunan dosa merupakan dua hal yang saling terkait, sehingga selalu diserukan bersama di dalam pemberitaan Kerajaan Allah. Pertobatan adalah persyaratan bagi pengampunan dosa, namun bukan dasar kita dilayakkan untuk mendapatkan pengampunan; sebaliknya, karena Tuhan telah menetapkan untuk berbelas kasihan kepada kita maka kita harus bertobat, karena Ia menunjukkan arah hidup yang harus kita tuju jika ingin mendapatkan anugerah. (John Calvin, Institutes of the Chris­tian Religion, III. 3, disadur oleh syo)

 

These two things are united – teaching and praying; God would have him whom he has set as a teacher in His church to be assiduous in prayer.

   

"MURID-MURID KRISTUS HARUS BERJALAN DI ANTARA ONAK DURI, DAN BERDERAP MAJU KE SALIB DI TENGAH PENDERITAAN YANG TAK HENTI-HENTINYA."

John Calvin.