next >>

 

ARTIKEL MINGGU INI

  153

 

 

<< renungan

 

Lima Upacara yang Secara Salah Dianggap sebagai Sakramen

 

Sakramen hanya dapat ditetapkan oleh Allah. Alkitab membedakan antara sakramen dan upacara/ritual supaya kita tidak jatuh ke dalam kesalahan yang konyol. Gereja mula-mula tidak mengakui adanya atau melaksanakan tujuh sakramen. Kita hanya menerima dua sakramen yang ditetapkan oleh Tuhan. Lima upacara lain yang disebut sakramen kenyataannya tidak diperintahkan oleh Tuhan. Kita menyatakan hal ini bukan untuk mencari pertengkaran, tetapi untuk menyingkapkan kebenaran.

1. Upacara penguatan (krisma) bukanlah sakramen. Gereja purba memiliki kebiasaan untuk membawa anak-anak Kristen yang telah tumbuh dewasa ke hadapan uskup untuk mengaku iman mereka seperti dilakukan oleh mereka yang menerima baptisan dewasa. Anak-anak yang telah menjadi remaja ini dibawa oleh orangtuanya ke hadapan uskup dan umat, lalu mereka diuji menurut pemeriksaan katekisasi, melakukan pengakuan publik, dan diberi berkat melalui penumpangan tangan. Namun generasi yang kemudian melakukan kesalahan dengan menjadikan upacara ini sebagai sakramen, yang melaluinya orang diberikan Roh Kudus untuk menumbuhkan anugerah. Namun tidak ada bukti alkitabiah bahwa ini merupakan perintah dari Allah. Pandangan bahwa penguatan membuat orang Kristen yang tidak lengkap menjadi lengkap jelas bertolak belakang dengan Kitab Suci, sebab menyatakan bahwa para rasul dan para martir (karena tidak menerima sakramen ini) tidak pernah mencapai status yang lengkap. Selain itu, Gereja Roma menempatkan penguatan di atas baptisan.

2. Pengakuan (tobat) bukanlah sakramen, sebab (a) tidak ada janji khusus dari Allah mengenai hal ini, (b) ini merupakan upacara yang diperintahkan oleh manusia, bukan oleh Allah. Dan seperti yang telah kita tegaskan sebelumnya, hanya Allah yang dapat menetapkan suatu sakramen. Pandangan bahwa baptisan tidak memadai, dan seakan-akan terhapuskan oleh dosa-dosa kita, sehingga memerlukan sakramen pengakuan (tobat), bukanlah ajaran Alkitab. Lebih tepat jika kita menyebut baptisan sebagai sakramen pengakuan (pertobatan), karena ini diberikan kepada yang memaksudkan pertobatan sebagai konfirmasi anugerah Allah dan meterai jaminan-Nya.

3. Sakramen pengurapan orang sakit dilakukan oleh imam dengan minyak yang telah disucikan oleh uskup, disertai rumusan kalimat: “Melalui pengurapan kudus ini dan melalui kemurahan Allah, kiranya Allah mengampunimu atas dosa-dosa yang telah kaulakukan dalam penglihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan, dan rasakan.” Berdasarkan Yakobus 5:14, mereka berpikir dapat meniru para rasul yang memiliki kuasa pengampunan dosa dan penyembuhan tubuh orang yang sakit. Ketika para rasul melakukan mujizat penyembuhan, mereka tidak mendasarkannya pada kuasa mereka, melainkan pada kuasa Roh Kudus; tetapi bagi kaum Roma Katolik: minyak yang telah disucikan dianggap memiliki kuasa Roh Kudus. Pengurapan bukanlah sakramen karena tidak diperintahkan oleh Tuhan, juga tidak diserahkan kepada kita tanpa disertai janji Allah.

4. Dalam sakramen imamat masih dibagi tujuh derajat keimaman menurut perbedaan anugerah masing-masing jabatan (penjaga pintu, pembaca, pengusir setan, acolyte, subdeacon, deacon, dan imam). Tiga jabatan yang lebih tinggi disebut “mayor” dan mereka disebut “holy orders” untuk menghormati mereka. Imam bertugas mempersembahkan korban tubuh dan darah Kristus di atas mezbah, berdoa, dan memberikan berkat. Karena itu, dalam pengangkatannya, mereka diberikan piring dengan hosti sebagai tanda kuasa yang diberikan kepada mereka untuk mempersembahkan korban penghapusan dosa kepada Allah, dan tangan mereka diurapi sebagai tanda mereka diajar bahwa mereka telah diberikan kuasa penyucian. Namun hal ini menyalahi Kristus yang adalah Imam satu-satunya yang mempersembahkan diri-Nya sendiri sekali untuk selamanya.

5. Pernikahan tidak pernah dilaksanakan sebagai sakramen sampai masa Gregorius VII (1073-1085 M). Ini bukanlah penyatuan rohani antara Kristus dengan jemaat seperti anggapan Gereja Roma. Mereka salah mengerti perkataan Rasul Paulus dalam Efesus 5:28. Di sini, Paulus berusaha menunjukkan kepada jemaat kasih seperti apa yang harus ditunjukkan oleh seorang suami kepada istrinya dengan menggunakan kasih Kristus yang tak terbatas kepada gereja sebagai ukuran atau analoginya. Kekacauan ini juga timbul dari salah pengertian tentang kata “misteri.” (John Calvin, Institutes of the Christian Religion, IV.19., disadur oleh syo)

 

There is no place for us among God’s children, except we renounce the world, and there will be no inheritance on heaven, except we become pilgrims on earth.  

   

"TIDAK AKAN ADA TEMPAT BAGI KITA DI ANTARA ANAK-ANAK ALLAH, KECUALI JIKA KITA MENOLAK DUNIA INI, DAN TIDAK AKAN ADA BAGIAN BAGI KITA DI SORGA, KECUALI JIKA KITA MENJADI MUSAFIR DI DUNIA INI."

John Calvin.