next >>

 

ARTIKEL MINGGU INI

  152

 

 

<< renungan

 

Misa Kepausan

 

Gereja Roma mengajarkan bahwa Misa adalah suatu perayaan pengorbanan dan persembahan untuk mendapatkan pengampunan dosa. Ini adalah suatu suatu perbuatan yang melaluinya seorang imam mempersembahkan Kristus, dan orang-orang lain mengambil bagian di dalamnya, untuk mendapatkan perkenan Allah, atau, suatu korban penghapusan dosa, yang melaluinya mereka mendamaikan diri mereka dengan Allah. Firman Allah menunjukkan bagaimana doktrin ini merupakan sikap yang tidak menghormati Kristus, menyelubungi salib-Nya, menutupi makna kematian-Nya dan manfaat yang dihasilkan bagi keselamatan kita, serta mengaburkan dan mencemarkan makna sebenarnya dari Perjamuan Kristus. 

Lima dampak negatif Misa: (1) Kristus adalah Imam Besar Agung yang kekal menurut peraturan Melkisedek (Ibr. 5:6; 7:17; 9:11), sehingga tidak diperlukan imam lain untuk menggantikan-Nya seperti dalam imamat Perjanjian Lama. Tetapi Gereja Roma justru menempatkan imam-imam sebagai pengganti Kristus, dan ini merupakan penghinaan terhadap keimaman Kristus. (2) Kristus telah mempersembahkan diri-Nya sebagai korban di atas kayu salib untuk menyucikan kita selamanya dan memperoleh penebusan yang kekal bagi kita (Ibr. 9:12). Dengan demikian, kekuatan dan khasiat dari korban-Nya berlangsung sampai selamanya. Namun, dengan menegakkan mezbah untuk mempersembahkan Kristus sebagai korban setiap hari, maka peristiwa salib yang sekali untuk selamanya itu telah diabaikan dan kuasa penyuciannya yang kekal ditiadakan. Dengan demikian ajaran Alkitab yang fundamental dilanggar demi ajaran buatan manusia. (3) Misa menghapuskan keunikan dan makna sesungguhnya dari kematian Kristus dan membuat orang melupakannya. Suatu perjanjian (testament) diteguhkan melalui kematian pembuatnya. Melalui kematian-Nya, Kristus meneguhkan perjanjian yang akan memberikan kepada kita pengampunan dosa dan kebenaran yang kekal (Ibr. 9:15-17). Mereka yang berani menggantikan dan menambahkan sesuatu yang baru pada perjanjian ini telah menyangkal kematian-Nya, menganggapnya tidak penting, dan membuat sesuatu yang sama sekali baru. Akibatnya, perjanjian yang baru ini membutuhkan kematian yang baru dari sang pembuat perjanjian, yang dilakukan setiap hari dalam ribuan misa: dengan demikian mengaburkan makna kematian Kristus yang sekali untuk selamanya di Kalvari. Alasan bahwa ini merupakan “korban yang tanpa menumpahkan darah” tidak mengesankan karena Alkitab sendiri mengatakan bahwa pencurahan darah diperlukan untuk menyucikan dosa (Ibr. 9:22). (4) Karena misa memberikan penebusan jenis baru atas dosa, ia menyingkirkan manfaat dari kematian Kristus. Jawaban mereka bahwa kita memperoleh pengampuan dosa dalam Misa semata-mata karena ini terlebih dahulu dibeli melalui kematian Kristus, bagaikan mengatakan bahwa kita telah ditebus oleh Kristus dengan cara kita menebus diri kita sendiri. Tidak cukup jika kita hanya memahami bahwa Kristus adalah korban satu-satunya: tetapi juga bahwa hanya ada satu kali korban, yang menancapkan iman kita ke salib-Nya. (5) Perjamuan Kudus merupakan suatu karunia yang harus diterima dengan rasa syukur; sebaliknya, Misa merupakan pembayaran harga kepada Allah supaya Dia menerimanya sebagai suatu pemuasan tuntutan-Nya bagi keselamatan kita. Dalam Perjamuan Kudus, iman kita dibangunkan; dalam misa, Kristus harus dikorbankan setiap hari untuk memberikan manfaat kepada kita.

Asal mula istilah “misa” tidak jelas, kecuali bahwa ini merujuk kepada persembahan yang diberikan pada masa awal gereja. Kita tidak menemukan adanya dukungan Alkitab bagi Misa. Para bapa gereja ketika mengutip kata “korban” tidak mengajarkan Misa, tetapi hanya sebagai ingatan terhadap pengorbanan Kristus sebagai satu-satunya yang benar. Chrysostom menolak bahwa ada uskup yang dapat menjadi pengantara dan syafaat antara Allah dan manusia.

Orang percaya hanya mengenal dua sakramen: (1) baptisan sebagai jalan masuk menjadi anggota Gereja (tubuh Kristus): dan hanya ada satu kali baptisan. (2) Perjamuan Kudus yang merupakan makanan rohani di mana Kristus terus-menerus memberi makan umat-Nya: harus terus-menerus diulang. Apa yang kita terima sebagai sakramen hanya apa yang ditetapkan oleh Allah sendiri. Kita tidak menerima adanya tambahan sakramen lain. Kita menolak sakramen yang tidak ditetapkan oleh firman Allah. (John Calvin, Institutes of the Christian Religion, IV.18., disadur oleh syo)

 

Any miracles … which seek to glorify the creature and not God, and which bolster up untruths and not the Word of God are manifestly of the devil.

   

"SETIAP MUJIZAT ... YANG MEMULIAKAN CIPTAAN DAN BUKANNYA ALLAH, DAN YANG MENDUKUNG KETIDAKBENARAN DAN BUKANNYA FIRMAN ALLAH MERUPAKAN MANIFESTASI DARI SI JAHAT."

John Calvin.