next >>

 

ARTIKEL MINGGU INI

  150

 

 

<< renungan

 

Perjamuan Kudus Kristus dan Manfaat yang Diberikan kepada Kita

(bagian pertama)

 

Melalui baptisan, Allah telah menerima kita sebagai anak-anak-Nya untuk selamanya. Karena itu, untuk memenuhi kewajiban-Nya sebagai Bapa yang baik terhadap anak-anak-Nya, Dia berikhtiar untuk memberi kita makan sepanjang hidup kita. Dan untuk meyakinkan kita akan kemurahan-Nya yang tak habis-habisnya, Ia memberikan suatu jaminan. Dan jaminan itu ialah sakramen perjamuan kudus, di mana Kristus menegaskan diri-Nya sebagai roti pemberi hidup, yang memberikan makanan bagi jiwa kita untuk memperoleh kebahagiaan sejati dan kekal. Tanda-tanda yang dipakai ialah roti dan anggur, yang mewakili tubuh dan darah Kristus yang diberikan menjadi makanan rohani bagi kita. Jadi sekarang Kristus adalah satu-satunya makanan bagi jiwa kita, dan setiap kali menyambut makanan rohani ini, kita disegarkan dan memperoleh kekuatan, sampai kita ke sorga. 

Karena misteri persatuan Kristus dengan orang percaya ini melampaui pengertian kita, maka untuk menyesuaikan dengan kemampuan akal kita yang terbatas, Allah menunjukkan hal ini dalam tanda yang kelihatan. Kita diperintahkan untuk makan tubuh yang pernah sekali untuk selamanya dipersembahkan bagi keselamatan kita, supaya ketika kita melihat bahwa diri kita telah dijadikan berbagian di dalamnya, kita diyakinkan bahwa kuasa dari kematian yang menghidupkan itu akan berlaku dalam diri kita.

Orang percaya mendapatkan jaminan dan kesukaan yang besar dari Perjamuan Kudus ini. Perjamuan Kudus menjadi saksi bahwa kita telah menjadi satu tubuh dengan Kristus, sehingga segala kepunyaan-Nya menjadi kepunyaan kita. Dengan demikian, kita berani meyakini bahwa hidup kekal yang diwarisi-Nya, kini telah menjadi milik kita. Dan bahwa Kerajaan Sorga yang telah dimasuki-Nya, sekarang telah menjadi milik kita. Kita dapat meyakini bahwa kita tidak akan dihukum atas dosa-dosa kita, karena semua itu telah ditanggungkan ke atas-Nya. Ini merupakan pertukaran yang ajaib, yang dilakukan-Nya berdasarkan kemurahan-Nya yang besar terhadap kita, yaitu: dengan menjadi Anak Manusia bersama kita, Dia telah menjadikan kita anak-anak Allah bersama-Nya;  dengan turun ke bumi, Ia telah membuka jalan bagi kita untuk naik/masuk ke sorga; dengan menerima kefanaan kita, Dia telah memberikan kekekalan kepada kita; dengan menerima kelemahan kita, Dia telah menguatkan kita dengan kuasa-Nya; dengan menjadi miskin karena kita, Dia mengalihkan kekayaan-Nya kepada kita; dengan menanggung beban kesalahan kita di atas diri-Nya, Dia telah mengenakan kebenaran kepada kita.

Dalam sakramen, kita harus meyakini bahwa Kristus sungguh-sungguh hadir sehingga kita dapat melihat-Nya dengan mata kita dan meraba-Nya dengan tangan kita. Dengan memerintahkan kita untuk makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya, Ia menunjukkan bahwa apa yang kita makan dan minum akan menjadi satu substansi dengan kita, dan bahwa tubuh-Nya yang telah diserahkan dan darah-Nya yang telah ditumpahkan untuk mendatangkan keselamatan, kini telah menjadi milik kita. Roti dan anggur dalam sakramen ini dapat mendatangkan berkat/manfaat bagi kita, karena pernah satu kali Ia diserahkan bagi penebusan dan keselamatan kita. Seperti yang sebelumnya dikatakan: oleh hal-hal fisik yang dikemukakan dalam sakramen, kita dibimbing melalui suatu analogi kepada hal-hal rohani. Jadi kita melihat roti dan anggur itu sebagai yang melambangkan tubuh yang terpecah dan darah Kristus yang tercurah bagi keselamatan. Dan dengan merenungkan hal ini, kita dapat ditumbuhkan, disegarkan, dikuatkan, dan dijadikan bersukacita.

Dua kesalahan ini harus kita waspadai: pertama, kita tidak boleh meremehkan tanda-tanda ini, sehingga memisahkannya dari misteri (kebenaran) yang terikat dalam tanda-tanda itu. Kedua, Kita tidak boleh meninggikannya secara berlebihan, sehingga mengaburkan misteri (kebenaran) yang terkandung di dalamnya. (John Calvin, Institutes of the Christian Religion, IV.17., disadur oleh syo)

 

To search for wisdom apart from Christ means not simply foolhardiness, but utter vanity.

   

"MENCARI HIKMAT DI LUAR KRISTUS BUKAN HANYA SUATU PETUALANGAN YANG BODOH, TETAPI SAMA SEKALI SIA-SIA."

John Calvin.