|
PENGANTAR |
8 - 14 April 2002 | Kejadian 37 - 44
|
|||||
| 13 |
|
|||||
|
|
Kejadian 37-50 dapat dilihat sebagai bagian kedua dari kisah Yakub (37:1-2 dan 46:1-50:14). Yakub telah melahir dua belas suku yang akan menjadi bangsa Israel yang besar. Selanjutnya sedang dipersiapkan bagaimana ia akan membawa keluarganya yang hanya berjumlah tujuh puluh orang (46:27) pindah dari tanah perjanjian Kanaan menuju tanah perbudakan di Mesir, di mana mereka akan bertumbuh menjadi suatu bangsa yang besar, sampai suatu hari Tuhan akan membawa mereka keluar dari perbudakan ke negeri yang telah dijanjikanNya kepada leluhur mereka (15:13-14). Tetapi di bagian ini, Yusuf mendapatkan peran yang khusus dan utama dalam memenuhi rencana ini. Kisah Yusuf mulai dengan penyataan mengenai kebesaran yang akan dialaminya melalui dua buah mimpi yang diberikan oleh Tuhan. Mimpi itu pasti sangat berkesan bagi Yusuf, ketika diceritakan hal itu membuat saudara-saudaranya semakin membenci dia, sampai pada suatu kesempatan mereka dengan begitu kejam menjual dia sebagai budak. Demikianlah Yusuf sampai di Mesir. Allah menyertai Yusuf membuat ia selalu berhasil dalam pekerjaannya, berkat ilahi ini tentunya disertai dengan proses pertumbuhan Yusuf untuk semakin matang dalam karakter dan kompeten untuk dipakai Tuhan. Hingga suatu hari dia diangkat menjadi penguasa Mesir, yang memungkinkan dia untuk menyelamatkan keluarganya dan orang-orang lain dari bahaya kelaparan; dan akhirnya memungkinkan Yakub membawa seluruh keluarganya pindah ke Mesir sesuai dengan nubuat Tuhan kepada Abraham. Dalam memenuhi rencana Tuhan itu, Yusuf harus melalui jalan yang penuh onak duri. Namun kesadaran Yusuf bahwa jalan hidupnya yang penuh air mata itu adalah rencana Allah baginya untuk suatu maksud penyelamatan yang besar (45:5-13; 50:19-21), mencegah dia jatuh ke dalam kepahitan dan dendam kepada orang-orang yang berbuat jahat kepadanya. Yusuf adalah contoh teladan bagaimana dalam situasi hidup yang penuh pencobaan dan kesengsaraan, ia tetap dapat menunjukkan suatu kehidupan yang memuliakan Allah, dengan hidup di hadapan dengan tidak bercela dan mempersilahkan kehendak Allah di dalam hidupnya direalisasikan secara sempurna. Dalam diri Yusuf kita melihat pribadi yang mewarisi kualitas-kualitas terbaik dari leluhurnya: iman dan kesetiaan Abraham, kelemah-lembutan Ishak, energi dan kompetensi Yakub dan keindahan dari Rahel. Karena itu, tidak heran Yakub mengasihi Yusuf melebihi sebelas putranya yang lain, dan dikasihi oleh umat Allah sepanjang masa karena kesaksian hidupnya yang demikian indah.
|
|||||
|
|
||||||