renungan >>

 

 

PENGANTAR

 

6-12 September 2004 | Nehemia 8-13

Printer Friendly Version

  139

 

 

<< previous

 

 

 

 

Nehemia dipakai Allah untuk menjalankan kepemimpinan di masa yang sulit dalam sejarah kehidupan bangsa Yahudi. Setelah Babel jatuh ke tangan Raja Koresy pada tahun 539 SM, Allah menggenapi firman-Nya yang sebelumnya telah disampaikan oleh Nabi Yesaya (44:28; 45:1 dst), ketika Koresy memerintahkan bangsa-bangsa jajahannya, yang dulu dibawa oleh Nebukadnezar ke Babel sebagai tawanan, untuk kembali ke tanah asal mereka dan mendukung pelaksanaan ibadah agama mereka. Pada tahun 538 SM kembalilah orang-orang Yahudi ke Yerusalem di bawah pimpinan Zerubabel, dan mereka berhasil menyelesaikan pembangunan bait Allah. Tetapi setelah sekian lama kembali ke tanah air mereka, ternyata kondisi kota Yerusalem terus berada dalam keadaan yang memprihatinkan. Hal inilah menggerakkan hati Nehemia untuk kembali ke tanah airnya untuk membangun kota Yerusalem dan memperbarui kehidupan bangsanya.

Sementara Zerubabel dan Ezra lebih banyak bekerja dalam lingkup religius, Nehemia lebih banyak bergerak dalam lingkup kebangsaan, walaupun kedua hal ini tidak sama sekali terpisah. Ia kembali ke Yerusalem sebagai gubernur atas tanah tersebut, dan Tuhan memberikan kepadanya kemampuan yang sangat besar untuk memobilisasi pembangunan kota dan melaksanakan pembaruan dalam kehidupan umat Allah. Kepemimpinannya yang kuat membuat dia dapat tetap bertahan untuk menyelesaikan tugas yang ditaruh Tuhan dalam hatinya walaupun terdapat berbagai tantangan dari pihak luar maupun dari dalam. Namun bahu-membahu dengan Ezra dan pemimpin-pemimpin lain, mereka dapat menjalankan tugas mereka.

Dalam kitab ini, menyaksikan pentingnya pembaruan rohani umat yang terjadi didasarkan pada Kitab Suci. Melalui pembacaan Kitab Taurat dan penjelasannya oleh Ezra kerohanian umat Allah dibangunkan, dan sebagai respons terhadap firman Allah mereka bertobat dari dosa-dosa mereka, dan berjanji untuk menaati hukum Allah, tidak kawin campur dengan bangsa-bangsa lain, dan memelihara kekudusan hari Sabat. Dalam kondisi yang masih sangat rapuh itulah, Allah memakai Nehemia untuk mengatur kehidupan mereka sebagai satu bangsa dan ibadah bait Allah. Ketika ia kembali ke Persia selama beberapa waktu untuk menghadap raja, bangsa Yahudi kembali menunjukkan ketidaksetiaan yang terjadi, hal itu terjadi karena karena kesalahan para pemimpin mereka. Karena itu, begitu kembali ia harus memperbaiki kesalahan yang mereka. Melalui pelayanannya yang tulus dan tidak mementingkan diri sendiri itu Nehemia telah memberikan kontribusi yang sangat menentukan bagi kehidupan bangsa Yahudi sehingga mereka dapat tetap mempertahankan identitas mereka sebagai umat Allah.