renungan>>

 

PENGANTAR

1 - 7 April 2002 | Kejadian 29:1 - 36

Printer Friendly Version

 

  12

 

 

<< previous

 

 

 

 

Kita mungkin bertanya-tanya bagaimana mungkin Allah memilih seorang penipu licik seperti Yakub untuk menerima janji berkat Tuhan yang begitu mulia. Tetapi inilah yang terjadi. Allah memberi anugerah kepada siapa yang Ia kehendaki berdasarkan kedaulatanNya (Rm 9:11-16). Ini juga yang terjadi pada diri kita yang menerima Injil anugerah Yesus Kristus. Kita dipilih bukan karena kita cukup baik sehingga membuat Allah harus memberikan keselamatan kepada kita. Kedaulatan anugerah Allah bagi kita yang tidak layak ini hanya akan membuat kita bersujud dan memuji Dia atas keajaiban kasihNya.

Kedaulatan anugerah Allah tidak berarti Ia kompromi terhadap kejahatan. Karena itu, pilihan anugerah selalu diikuti disiplin ilahi. Allah mendidik siapa yang dipilihNya untuk menjadi anak-anakNya supaya mereka hidup sesuai dengan panggilan mereka (Ibr 12:7). Dalam kehidupan Yakub kita melihat berbagai pengalaman menyakitkan (Kej 47:9) yang dipakai Allah untuk mengubah dia menjadi seorang manusia baru. Di rumah pamannya, Laban, yang kemudian menjadi mertuanya, ia mengalami ironi yang pahit; dia, si penipu ditipu hingga sepuluh kali (31:7). Ia harus bekerja empat belas tahun untuk mendapat istri dan anak-anaknya, dan bekerja enam tahun lagi untuk mendapatkan ternak (harta) bagi dirinya (31:41). Tetapi menghadapi trik-trik Lacak yang licik itu, Yakub semakin menyadari berkat dan perlindungan Tuhan baginya. Ia tahu kalau bukan karena tangan Allah, Laban tidak akan membiarkan dia kembali ke rumah orangtuanya dengan membawa keluarga dan hartanya (31:24, 29, 42).

Lolos dari Laban, Yakub masih harus menghadapi dendam Esau. Dalam ketakutannya itu ia berdoa kepada Allah. Melalui pergumulan doa itu ia menang terhadap dirinya sendiri dan diubahkan dari seorang yang tidak rohani dan ambisius menjadi manusia baru yang rendah hati dan bersandar kepada Allah. Sejak itu namanya berubah menjadi Israel. Perlindungan Allah baginya dinyatakan dalam merubah pertemuan dengan Esau yang menakutkan Yakub itu menjadi pendamaian dua saudara. Masih banyak peristiwa menyakitkan yang masih harus ia alami. Putrinya, Dina, diperkosa oleh Sikhem, yang diikuti dengan tindakan balas dendam yang licik dan kejam oleh anak-anaknya membuatnya kuatir itu akan mengakibatkan kemarahan penduduk sekitar. Setelah itu ia kematian Rahel, istrinya paling yang dikasihinya. Perjalanan hidup Yakub yang penuh liku-liku dan kesusahan masih panjang, bencana yang terjadi pada Yusuf, anaknya yang paling ia kasihi, seakan-akan menenggelamkan dia dalam keputus-asaan dan kesedihan yang berkepanjangan. Demikianlah dalam diri Yakub kita melihat anugerah anugerah yang luar biasa tetapi juga suatu disiplin yang begitu berat untuk merubah dia menjadi seorang pahlawan iman.