|
PENGANTAR
|
28 Juni - 4 Juli 2004 | Yeh. 12-20 |
|||||
| 129 |
|
|||||
|
|
||||||
|
|
Yehezkiel hidup di zaman yang penuh dengan pergolakan internasional. Kerajaan Asyur yang sebelumnya menaklukkan daerah Siria-Palestina dan menghancurkan kerajaan Israel di Utara (722 SM) mulai mengalami kemunduran di bawah bayang-bayang kebangkitan Babel yang muncul sebagai kuasa yang dominan di Timur Dekat kuno. Pada 612 SM Niniweh, ibukota Asyur yang besar, jatuh di tangan tentara gabungan Babel dan Media, datanglah Mesir untuk berusaha menyelamatkan Asyur dari kehancuran. Di Megido, Raja Yosia dari Yehuda, yang telah menjadi sekutu Babel berusaha menahan kekuatan Mesir, namun ia terbunuh dalam peperangan itu. Yosia digantikan oleh Yoahas. Tetapi baru memerintah tiga bulan, Firaun Neko menggantikannya dengan Yoyakim, anak Yosia yang lain, pada 609/608 SM (2Raj. 23:34). Setelah Mesir dikalahkan oleh Babel dalam peperangan di Karkemis pada 605 SM, Yoyakim beralih menjadi jajahan Nebukadnezar. Tetapi kemudian ia kembali berpaling kepada Mesir (2Raj. 24:1), sehingga datanglah Nebukadnezar untuk menghukumnya, namun kematian Yoyakim, membuat anaknya, Yoyakhin, yang harus menghadapi murka Nebukadnezar. Setelah pengepungan yang singkat, maka pada 597 SM, Yoyakhin bersama sejumlah besar warga pilihan, termasuk Yehezkiel, dibawa ke dalam pembuangan (2Raj. 24:8-12) untuk bergabung dengan orang-orang buangan yang sebelumnya telah dibawa ke sana pada 605 SM (Dan. 1:1). Nebukadnezar mengangkat Zedekia, paman Yoyakhin, menjadi penguasa Yehuda. Dia memerintah selama sebelas tahun hingga penghancuran Yerusalem pada 586 SM. Walaupun Zedekia menjadi raja terakhir Yehuda, namun Yoyakhinlah yang selalu dianggap sebagai pemimpin yang absah dari keturunan Daud. Semua penanggalan yang disebutkan dalam Kitab Yehezkiel didasarkan pada tahun pembuangan Raja Yoyakhin. Tidak ada tulisan nabi-nabi lain yang memberikan begitu banyak rujukan penanggalan yang diberikan kitab ini. Yehezkiel memiliki kesadaran akan relevansi beritanya terhadap situasi historis yang sedang dijalani.Orang-orang buangan di Babel dan yang masih berada di Yerusalem berharap pembuangan itu akan berlangsung singkat, dan orang-orang buangan itu dapat segera kembali ke negeri mereka, dan Yerusalem terlepas dari malapetaka. Sejumlah nabi palsu bahkan mengajarkan pemikiran ini. Mereka berpikir, karena Tuhan telah memilih Yerusalem sebagai tempat kediaman-Nya dan telah membela tempat itu pada masa yang lampau, tentunya Yerusalem tidak terkalahkan. Dalam keadaan demikianlah Yehezkiel dipanggil untuk menentang nubuat pada nabi palsu itu. Melalui berbagai alegori dan tindakan profetik, Yehezkiel memberi peringatan yang keras kepada mereka bahwa bahkan nasib yang lebih buruk akan menimpa Yerusalem dan penduduknya karena tidak mau bertobat dari dosa-dosanya.
|
|||||