renungan>>

 

PENGANTAR

25 - 31 Maret 2002 | Kejadian 22 - 28:22

Printer Friendly Version

 

  11

 

 

<< previous

 

 

 

 

Iman Abraham adalah suatu iman yang hidup. Berpegang pada janji Allah ia menjalankan kewajibannya sebagai hamba perjanjian. Ketaatan Abraham terhadap perintah Allah untuk mempersembahkan Ishak – si anak perjanjian – merupakan suatu ketaatan iman yang sangat diperkenan Tuhan. Hal ini karena Abraham lebih menempatkan Allah sebagai yang terutama dalam hatinya mengatasi segala sesuatu. Ia percaya kepada janji Allah yang tidak mungkin dilanggar sendiri olehNya dengan perintah itu, ia percaya kepada hikmat Allah dalam melaksanakan kehendakNya, ia percaya kepada kuasa Allah yang sanggup menjamin janjiNya terlaksana, termasuk kuasaNya untuk membangkitkan Ishak dari kematian ketika anak itu dipersembahkan kepada Allah (Ibr 11:17-19). Dalam hal ini Abraham tidak digoyahkan oleh ketakutannya akan kehilangan anaknya yang sangat ia kasihi, karena ia percaya/taat kepada Allah yang dapat disandari. Sebagai anak-anak iman Abraham, orang Kristen diharapkan mewujudkan iman yang hidup yang diteladankan oleh Abraham ini.

Karena janji berkat itu akan diteruskan kepada keluarga yang masih jauh, maka ia dengan sungguh-sungguh memikirkan keluarga yang akan dibentuk oleh Ishak, itulah sebabnya ia dengan berhati-hati mencarikan seorang istri bagi Ishak. Tuhan memberkati usaha  Eliezer, hamba Abraham, sehingga ia berhasil mendapatkan Rahel, untuk menjadi istri Ishak. Kehidupan Ishak yang tenang tidak memiliki signifikansi penting untuk banyak diceritakan dalam kisah suci ini. Rahel melahirkan dua orang anak bagi Ishak, yaitu Esau dan Yakub; tetapi pemilihan anugerah menetapkan bahwa Yakublah yang akan menjadi pewaris perjanjian Allah. Pemilihan anugerah atas seorang penipu yang licik mengimplikasikan suatu disiplin yang menyakitkan diperlukan  untuk memurnikan dia untuk menjadi seorang patriakh iman. Jalan hidup Yakub yang penuh liku-liku ini akan membawanya masuk ke dalam banyak pengalaman menyakitkan. Dia harus menjadi pelarian di negeri lain dan berada jauh dari orang tuanya, ia harus belajar bagaimana rasanya ditipu oleh mertuanya sendiri, dan menghadapi berbagai bahaya. Tetapi dalam semuanya Allah menyertai dia, dan sampai akhirnya merubah dia dan menjadikan dia seorang manusia baru.