|
PENGANTAR
|
19-25 April 2004 | 2 Taw 26-36 |
|||||
| 119 |
|
|||||
|
|
||||||
|
|
Allah menggunakan sejarah untuk menyatakan kebenaran-kebenaran mengenai diri-Nya dan relasi-Nya dengan umat manusia. Walaupun penulis Kitab Raja-Raja dan penulis Kitab Tawarikh sama-sama menafsirkan sejarah tetapi berita teologis yang mereka sampaikan adalah berbeda. Kitab Raja-Raja yang ditulis setelah keruntuhan kerajaan Selatan (586 SM; Kerajaan Utara telah runtuh pada 722 SM) menekankan bahwa dosa membawa kehancuran (2Raj. 17:15,18), sedangkan Kitab Tawarikh yang ditulis setelah umat buangan kembali ke Yerusalem pada tahun 537 SM dan 458 SM, menekankan bahwa “iman memberikan kemenangan” (2Taw. 20:20, 22), dan bahwa penghakiman Allah juga disertai dengan anugerah keselamatan-Nya. Kitab ini ditutup dengan pembuangan umat yang tidak setia ke Babel selama 70 tahun, hingga dikeluarkannya dekrit Raja Koresy yang mengizinkan mereka kembali ke Yerusalem (2Taw. 36:17-23).Penulis Tawarikh mendeskripsikan Allah sebagai yang berada di pusat sejarah dan yang mengendalikan sejarah. Segala peristiwa mendapatkan penjelasannya bukan di dalam alasan politis, sosiologis, militer, ekonomi, ataupun kejadian yang berlangsung, melainkan di dalam Allah yang memegang kendali atas sejarah. Dari sudut pandang manusia, tindakan Raja Asa yang meminta bantuan Aram ketika diserang oleh Baesa, raja Israel merupakan suatu kecerdasan politis (16:1-6), tetapi di mata Tuhan hal tersebut merupakan suatu kebodohan dan ketidaksetiaan kepada Allah, akibatnya peperangan akan dibiarkan terus melandanya (16:7-9). Kemenangan atau kekalahan dalam pertempuran tidak tergantung pada kegagahan para panglima atau besarnya kekuatan lawan, tetapi tergantung pada kehendak Allah dan sering kali pada campur tangan Allah yang ajaib (misalnya 2Taw. 13:15-18; 17:10; 20:23-25).Kebenaran rohani yang selalu ditekankan oleh penulis ialah bahwa ketaatan kepada Allah akan mendatangkan berkat sedangkan ketidaktaatan mendatangkan penghukuman. Allah membunuh Saul karena ketidaksetiaannya dan menyerahkan kursi kerajaan kepada Daud (1Taw. 10:14); walaupun berhasil mendesak tentara Abia, tetapi akhirnya tentara Yerobeam menderita kekalahan besar karena Allah yang menyerahkan tentara Yerobeam kepada tentara Abia yang mengandalkan Tuhan (2Taw. 13:13-20); Allah memberikan keamanan dan kemenangan kepada Asa ketika tentara Zerah dari Etiopia menyerangnya, walaupun Asa hanya memiliki sedikit tentara (2Taw. 14:6, 12-13); Tuhan mengokohkan kerajaan Yosafat (2Taw. 17:5) dan memberikan kemenangan kepadanya atas tentara sekutu bani Moab dan bani Amon bahkan sebelum tentara Israel mulai berperang (2Taw. 20:22-23). Contoh yang paling menonjol tentang intervensi Allah ini ialah saat Allah menghancurkan pasukan Sanherib ketika pemimpin Asyur yang sombong itu berani menantang Allah Yahweh dan membandingkannya dengan ilah bangsa-bangsa lain (2Taw. 32:16-22). Semua berkat dan anugerah ini mereka alami raja-raja Yehuda ini bersandar kepada Tuhan. |
|||||