|
PENGANTAR
|
16-22 Februari 2004 | Matius 26-28 |
|||||
| 110 |
|
|||||
|
|
||||||
|
|
Melalui Perjamuan Terakhir dan diskursus yang menyertainya, Yesus memberikan simbolisme baru pada unsur-unsur perjamuan Paskah/Pasah umat Israel yang dirayakan setiap tahun, untuk memperingati peristiwa keluaran dengan korban pelindungnya (Kel. 12). Dalam peristiwa keluaran, banyak anak sulung yang mati; di sini, akan ada seorang anak sulung yang secara unik memberikan kehidupan. Di sana, kehadiran darah domba yang dikorbankan berarti lewatnya hukuman kematian dari anak-anak sulung umat Israel yang setia menantikan Allah; di sini, akan ada darah Anak Domba Allah yang dicurahkan untuk membuka jalan menuju era baru dengan anugerah zaman akhir yang istimewa. Yesus mengambil roti dan menjadikannya sebagai simbol kematian-Nya, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Yesus menunjukkan bahwa melalui kematian-Nya ditegakkanlah kovenan baru Allah. “Inilah darah-Ku, darah perjanjian [kovenan] yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” Kematian Yesus merupakan inisiasi kovenan baru yang dinubuatkan dalam Yeremia 31:31-34; kematian-Nya merupakan penebusan “bagi banyak orang” yang dinubuatkan dalam Yesaya 53:11-12 (Mk. 10:45).Perayaan Perjamuan Tuhan ini dengan cepat terlepas dari akar keyahudiannya, karena Yesus telah mengtransformasi perjamuan ini menjadi suatu perayaan baru umat Allah, sehingga membuatnya dirayakan lebih dari sekali dalam setahun. Perjamuan ini telah menjadi peringatan terhadap kematian dan kebangkitan Yesus, suatu fakta yang dapat diperingati oleh para pengikut-Nya dalam hari ibadah kapan saja. Inilah perayaan (satu dari dua sakramen) yang diperintahkan langsung oleh Tuhan, “perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk. 22:19). Dan ingatan akan pengorbanan Tuhan ini harus membuat kita mengucap syukur kepada-Nya dan iman kita sekali dikuatkan oleh kasih Tuhan kepada kita; atas berkat yang akan kita alami sepenuhnya dalam perjamuan Anak Domba dalam Kerajaan Allah di sorga kelak. Jadi Perjamuan Tuhan juga menguatkan pengharapan kita akan kedatangan Kristus yang kedua kalinya.Perjamuan Tuhan juga merupakan suatu kesaksian tentang karya Tuhan bagi orang berdosa, dan karena itu, kita didorong untuk memberitakan Injil Tuhan sampai Dia datang kembali. Perjamuan Tuhan juga mengingatkan persekutuan umat Kristus yang ditebus dan dipersatukan sebagai anggota tubuh-Nya. Perjamuan Tuhan juga mengingatkan kita untuk hidup menurut moralitas Kerajaan Allah, di mana kita telah dibawa masuk ke dalamnya. Rasul Paulus mengingatkan kita yang telah menyambut karya Anak Domba Allah untuk “berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran (1Kor. 5:7-8). |
|||||