next >>

 

ARTIKEL MINGGU INI

  109

 

 

<<renungan

 

Janji Hukum Taurat dan Injil Mengajarkan Hal yang Sama

 

Kita menolak perbuatan sebagai dasar untuk breoleh pembenaran, bukan supa­ya ti­dak ada perbuatan baik untuk dilakukan, atau apa yang dilakukan disangkali sebagai hal yang baik, tetapi supaya kita tidak bersandar padanya, bermegah di dalamnya, atau mengatakan kita diselamatkan karena perbuatan kita. Sebab jaminan kita, kemuliaan kita, dan sauh keselamatan kita semata-mata ialah karena kita memiliki Kristus, dan dengan berada di dalam Dia, kita diangkat menjadi anak-anak Allah dan menjadi pewaris Keraja­an Sorga, bukan karena kelayakan kita, tetapi karena anugerah Allah.

Tetapi Kaum Skolastik mengatakan, karena Kitab Suci memerintahkan kita menjadi pelaku hukum Taurat, yang disertai janji berkat dan ancaman kutuk (Ul. 7:12-13; Yer. 7:5-7; Ul. 11:26), berarti pem­be­naran diperoleh tidak hanya melalui iman. Tetapi seperti yang telah dibahas, orang yang bersandar pada hukum Taurat, karena tidak dapat meme­nuhinya, akan berada di bawah kutuk (Ul. 27:26). Dan supaya terlepas dari kutuk Taurat yang tidak dapat kita penuhi inilah, kita perlu terlepas dari kuasa hukum Taurat, supaya kita mendapatkan pembenaran kita hanya di dalam Kristus. Ini bukan kebe­bas­an yang bersifat kedagingan supaya kita dapat bebas berbuat dosa, tetapi merupakan kebebasan rohani, yang menghibur dan menguat­kan hati nurani yang tertekan, karena kita telah dibebaskan dari kutuk dan penghukuman hukum Taurat.

Semua janji Allah yang diberikan kepada kita dalam hukum Taurat – karena  tidak seorang pun yang dapat memenuhi seluruh tuntutannya dengan sempurna – akan menjadi sia-sia, jika kita tidak mendapatkan pertolongan Allah di dalam Injil. Allah menolong kita dengan tidak meninggalkan kita mencapai pembenaran dengan usaha kita sendiri, tetapi telah menetapkan Kristus, satu-satunya yang sanggup menggenapi seluruh tuntutan hukum Taurat bagi pembenaran kita (Gal. 2:16). Janji berkat Allah dalam Taurat tidak bermanfaat bagi kita selama dicari sebagai jasa per­buatan, namun digantikan dengan janji Injil, kita bukan saja telah diterima oleh Allah, juga perbuatan kita diperkenan oleh-Nya, bukan karena perbuatan itu layak, tetapi karena diterima bersamaan dengan pengam­pun­an yang Ia berikan kepada kita.

Tidak ada seorang pun yang diterima Allah karena kebaikannya sehingga layak me­ne­rima anguerah Allah (bdk. Kis. 10:31), karena apa yang didapati Allah dalam manusia hanyalah kerusakannya yang menyedihkan. Namun oleh kemurahan-Nya Allah telah me­layakkan dia yang tidak layak, untuk menerima anugerah-Nya. Karena orang saleh sekali pun masih merupakan orang berdosa, maka perbuatan baiknya penuh cacat, sehingga jika perbuatan baiknya diterima, itu hanya karena Allah menerimanya di dalam Kristus.

Memang ada ayat-ayat Kitab Suci yang berbicara tentang “kebenaran” menurut perbuatan hukum Taurat (Ul. 6:25, Mzm. 106:30-31). Namun, walaupun kita mengakui bahwa ketaatan yang sempurna terhadap hukum Taurat akan memberikan kebenaran, tetapi kita menyangkal adanya orang yang mampu mendapatkannya. Faktanya adalah ti­dak ada seorang pun bisa melakukan seluruh hukum Taurat sehingga ia dapat dibenarkan oleh perbuatannya.

Hanya setelah seseorang dibenarkan oleh iman, perbuatan baik yang ia lakukan baru berharga. Doktrin pembenaran oleh iman tidak meniadakan perbuatan, sebaliknya justru menguat­kannya. Suatu perbuatan diterima hanya jika itu dilakukan dengan adanya pengampunan. Sebagaimana kita, yang telah dicangkokkan di dalam Kristus adalah benar dalam pandangan Allah, demikian juga perbuatan kita, walaupun mengandung kesalahan, kini diterima karena telah dibalut dengan kesucian Kristus.

Kitab Suci memerintahkan kita untuk hidup dalam kesempurnaan: “tak bercela dan tak bercacat” (Kol. 1:22; Ef. 1:4). Inilah yang harus menjadi tujuan setiap orang percaya, tetapi karena dalam kehidupan ini, bahkan orang yang paling saleh pun hanya dapat membuat sedikit kemajuan, maka kita baru sampai pada tujuan ini saat kita melepaskan tubuh dosa ini dan bersatu dengan Tuhan. (John Calvin, Institutes of the Christian Reli­gion, III. 17, disadur oleh syo.)

 

Faith we campare to a vessel; for unless we come empty with the mouth of our soul open to implore the grace of Christ, we cannot receive Christ.
   

"KITA DAPAT MENGANDAIKAN IMAN SEPERTI SEBUAH BEJANA; DIMANA JIKA KITA TIDAK DATANG DENGAN JIWA YANG KOSONG DAN TERBUKA LEBAR-LEBAR UNTUK MEMOHONKAN."

John Calvin.