renungan >>

 

 

PENGANTAR

 

29 Des 2003- 4 Jan 2004 | Pengkhotbah

Printer Friendly Version

  103

 

 

<< previous

 

 

Garis Besar Kitab Pengkhotbah

1:1.       Introduksi

1:2-11.     Kesia-siaan kehidupan manusia di dunia ini

1:12-2:26.    Pencarian makna hidup dan hikmat melalui berbagai eksperimen

3:1-6:12.  Berbagai contoh kesia-siaan dalam kehidupan manusia

7:1-11:6.   Berbagai nasihat hikmat untuk menjalani kehidupan secara benar dan bijaksana

11:7-12:14.   Takutlah akan Tuhan, lalu jalanilah hidup ini secara positif

 

 

 

Sang Pengkhotbah yang menulis kitab ini adalah seorang raja dari keturunan Daud, yang memerintah di Yerusalem (1:1,12); seorang yang dikaruniai hikmat yang luar biasa (1:16) dan memiliki kekayaan yang melimpah (2:4-9). Tokoh yang paling memiliki kualifikasi sebagai penulis kitab ini tentu hanyalah raja Salomo, seorang raja yang memiliki hikmat yang luar biasa, dan yang memiliki kekayaan yang melimpah. Dialah raja yang memiliki kesempatan untuk melakukan berbagai eksperimen kesenangan hidup yang dapat dialami oleh manusia. Kitab ini ditulis oleh seorang yang telah mencapai kebijaksanaan hidup melalui pencarian yang melelahkan dan menyakitkan terhadap kehidupan, sehingga ia dapat menegaskan dengan mantap bahwa hanya di dalam takut akan Allah orang akan mendapatkan makna hidup dan kebahagiaan.

Kitab Pengkhotbah ini sering dilihat sebagai tulisan apologetika, tujuannya ialah untuk membangkitkan iman kepada Allah, caranya dengan menunjukkan kesia-siaan kehidupan manusia di dunia ini, agar orang disadarkan bahwa satu-satunya harapan untuk mengalami penebusan dari kesia-siaan dan memiliki hidup yang bermakna ialah iman kepada Allah. Allah telah menciptakan dunia ini dan manusia di dalamnya dengan baik, tetapi dosa manusialah yang membuat kehidupan ini menjadi suatu kesia-siaan. Pengkhotbah dengan ketajaman pengamatannya yang luar biasa membuka mata kita terhadap realitas kehidupan di dunia ini yang sangat memprihatinkan. Segala sesuatu di bawah matahari ini telah dikurung di dalam  kesia-siaan. Kenyataan ini telah banyak disuarakan oleh kaum Eksistensialis Ateis pada abad yang lalu, namun apa yang mereka ketahui baru separuh kebenaran yang ingin disampaikan oleh Pengkhotbah. Pengkhotbah mengungkapkan kenyataan pahit ini bukan untuk membawa kita dalam pesimisme dan nihilisme, tetapi sebagai pengantar untuk membawa kita kepada iman yang sepenuhnya kepada Allah. Sebab siapakah yang akan sungguh-sungguh menyandarkan hidupnya kepada Allah, kecuali orang yang telah menyadari keadaannya yang celaka di luar Allah. Kehidupan manusia telah dikurung dalam kesia-siaan dan hanya menyusahkan, bahkan di dalam tertawa, kegirangan, keberhasilan, dan banyaknya pengetahuan. Kematian merupakan akhir hidup manusia, dan bersama itu, berakhirlah jugalah semua pencapaiannya, lalu ia akan dibawa ke hadapan pengadilan Allah. Betapa sia-sianya kehidupan manusia selama belum mengalami penebusan Kristus yang akan menjadikan hidupnya layak dijalani dan yang memberikan jaminan bagi masa depan kekekalannya.