renungan >>

 

 

PENGANTAR

 

22-28 Desember 2003 | Kolose, Filemon

Printer Friendly Version

  102

 

 

<< previous

 

 

Garis Besar Surat Kolose

1:1-8    Salam dan ucapan syukur

1:9-14  Paulus memohonkan hikmat dan kehidupan yang saleh bagi jemaat Kolose

1:15-20   Kristus adalah Tuhan atas seluruh ciptaan dan gereja

1:21-23   Persekutuan jemaat Kolose dalam berkat-berkat Injil

1:24-2:7  Misi Paulus dalam rencana Allah

2:8-23   Kesempurnaan Kristus sebagai Juruselamat dan kelepasan dari legalisme

3:1-4:6  Pola hidup baru di dalam Kristus: Akibat partisipasi di dalam Kristus [3:1-17]; Kehidupan keluarga Kristen [3:18-4:1]; Doa dan kesaksian [4:2-6])

4:7-18  Salam dan beberapa nasihat tambahan

 

 

 

Surat Kolose. Kolose, Laodikia, dan Heirapolis (Kol. 4:13) adalah tiga kota yang terletak di lembah Lycus, sekitar 160 km dari kota Efesus. Rasul Paulus belum pernah mengunjungi kota-kota ini (2:1), ia hanya mendengar kabar tentang mereka dari Epafras yang mendirikan jemaat-jemaat ini (1:7; 2:5; 4:12-13). Ia sangat bersyukur atas iman, kasih, dan pengharapan mereka (1:3-5; 2:5), dan tidak henti-hentinya berdoa bagi pertumbuhan mereka. Tetapi ia juga merasa prihatin karena adanya bahaya ajaran palsu yang mendatangi mereka dengan kedok filsafat yang telah mendapatkan pencerahan (2:8), dan yang mengklaim memiliki bentuk kekristenan yang lebih tinggi. Mereka mengajarkan keharusan untuk menaati peraturan sunat dan aturan yang ketat, untuk mendapatkan akses langsung ke hadirat Allah, dan melaksanakan penyembahan malaikat, yang menjadi perantara untuk mendekati takhta Allah (2:8-23). Walaupun guru-guru palsu ini memberikan tempat yang tinggi kepada Yesus, tetapi bukan sebagai yang tertinggi. Maka, Paulus menegaskan keilahian Yesus Kristus dan keutamaan-Nya atas segala sesuatu, dan kesempurnaan-Nya dalam menyelamatkan orang percaya, sehingga mereka tidak memerlukan lagi peraturan tambahan, yang justru akan menghambatkan kemerdekaan Kristen mereka. Dalam surat ini kita mendapatkan salah satu pengungkapan yang terpenting tentang pribadi dan karya Kristus, yang merupakan tema utama surat ini. Yesus adalah gambar Allah, suatu cara ungkapan orang Ibrani, yang tidak lain merupakan penegasan bahwa Kristus adalah Allah sendiri, tetapi yang di dalam masa inkarnasi telah merendahkan diri-Nya menjadi salah seorang dari kita, sehingga Ia menjadi Saudara Sulung kita. Surat ini juga dilengkapi dengan petunjuk ringkas tentang bagaimana seharusnya orang Kristen menjalani kehidupan baru mereka.

Surat Filemon tidak berisi pembahasan doktrinal yang sistematis. Surat ini hanya memiliki satu tujuan: meminta Filemon untuk memaafkan budaknya yang telah melarikan diri dan mencuri uangnya, namun kini ia telah bertobat dan diubahkan menjadi seorang manusia baru melalui perjumpaannya dengan Rasul Paulus di kota Roma. Kini dia telah menjadi manusia yang berguna (Onesimus, artinya berguna) bagi Paulus dan bagi pelayanan Injil. Namun Paulus tidak mau menahannya tanpa persetujuan Filemon. Karena semua adalah orang Kristen, maka mereka harus bertindak secara Kristen dengan menyelesaikan masalah ini dengan baik. Surat ini dipenuhi dengan kehangatan, cara berkomunikasi yang bijaksana, penuh kasih dan kemurahan, dan memberikan suatu gambaran yang tak terlupakan tentang kekristenan yang diwujudkan dalam kehidupan umat. Walaupun tidak disebutkan nama tempat, tetapi tampaknya jelas bahwa surat ini ditulis bersamaan dengan saat penulisan surat Kolose.