next >>

 

ARTIKEL MINGGU INI

  100

 

 

<<renungan

 

Bagaimana Memanfaatkan Kehidupan Masa Kini bagi Kemuliaan Allah

 

Allah menciptakan dunia yang berisi banyak hal yang baik ini sebagai karunia bagi kita. Kitab Suci mengajarkan kita untuk menggunakan berkat duniawi ini secara benar, bukannya diabaikan. Sebagai musafir yang sedang menuju ke negeri yang kekal, kita diajar untuk memanfaatkan hal-hal duniawi ini sambil menjaga agar tidak terikat/dihambat olehnya (1Ptr. 2:11); kita yang menggunakan sesuatu hendaknya bersikap seolah-olah tidak menggunakannya (1Kor. 7:29-31). Dua ekstrem ini harus kita hindari: (1) hidup dengan aturan yang ketat, lebih dari yang diajarkan oleh Alkitab, seperti menolak segala kenikmatan; (2) menggunakan hal-hal dalam kehidupan ini secara berlebihan dan mengabaikan tuntunan prinsip Alkitab. Kedua ekstrem ini harus dilawan dengan pengajaran Alkitab yang seimbang. Prinsip utama dalam menggunakan berkat-berkat ciptaan ini ialah hendaklah semua ini digunakan sesuai dengan maksud Allah ketika menciptakannya, yaitu bagi kebaikan kita, dan bukannya bagi kehancuran kita. Dan tujuan penggunaan yang benar ialah untuk memenuhi kebutuhan hidup kita dan untuk memberikan kesukaan kepada kita. Misalnya, berbagai tumbuhan, pohon, dan buah, selain untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, juga dimaksudkan untuk memberi keindahan dan keharuman yang memberikan kesukaan bagi hidup kita.

Di satu sisi, kita harus menolak pikiran yang sempit dari Stoikisme yang membatasi penggunaan hal-hal dunia ini hanya pada kebutuhan hidup dan mengabaikan kesukaan yang dibenarkan; di sisi lain, kita juga harus waspada agar tidak dihanyutkan oleh nafsu liar, yang dapat menjauhkan pikiran kita dari Allah dan panggilan-Nya bagi kita. Untuk mengatasi dua ekstrem ini, hendaklah kita senantiasa memandang kepada Sang Pemberi karunia dan bersyukur atas semua hal yang telah Ia ciptakan bagi kebaikan kita, maka kita akan diingatkan untuk selalu memanfaatkan semua berkat ciptaan ini secara benar. Memandang secara remeh kehidupan sekarang ini dan merenungkan kehidupan yang akan datang akan membawa kita untuk hidup menurut beberapa prinsip berikut ini:

Pertama, mengembangkan sikap tidak terikat oleh segala sesuatu yang ada di dunia ini, namun dapat menggunakannya sebagai karunia yang baik dari Tuhan yang dapat kita syukuri. Kita memiliki hal-hal duniawi ini seperti tidak memiliki, menggunakan hal-hal duniawi ini seakan-akan tidak menggunakannya (1Kor. 7:29-31);  Kedua, puas dengan apa yang kita miliki. Bersabar dalam kemiskinan dan menguasai diri dalam kelimpahan. Merasa puas dengan yang sedikit akan memampukan kita memiliki sukacita yang stabil dalam kelimpahan maupun kekurangan. Orang yang tidak mampu bersabar dalam kemiskinan juga tidak dapat menguasai diri ketika dalam kelimpahan. Tujuan menolak kerakusan, ketamakan, dan kemewahan ialah untuk menjaga pikiran kita tidak dialihkan dari berpola pikir rohani, sebab orang yang terlalu memperhatikan tubuhnya akan cenderung mengabaikan jiwanya; Ketiga, semua yang kita miliki merupakan karunia Allah, yang dipercayakan kepada kita bagi kebaikan kita, dan bagaimana kita menggunakannya suatu hari kita harus pertanggungjawabkan kepada Allah. Keempat, hidup sesuai dengan panggilan hidup dari Allah. Setiap orang memiliki panggilan yang telah ditetapkan oleh Allah. Karena itu, kita tidak hidup tanpa tujuan yang jelas ataupun hidup dengan ambisi yang berlebihan. Panggilan Allah memberikan arah dan tujuan bagi hidup kita, yang harus kita laksanakan dengan rajin. Melaksanakan panggilan hidup merupakan landasan bagi pekerjaan yang baik dalam kehidupan kita sehari-hari. (1) Allah menolak bahkan hal-hal yang tampaknya merupakan usaha terbaik yang kita lakukan di luar panggilan yang Ia tetapkan bagi kita; (2) Jika mengikuti bimbingan ilahi, kita tetap berada di tempat yang telah ditetapkan Allah bagi kita, maka dalam kesengsaraan dan kesulitan kita akan mendapatkan penghiburan karena tahu bahwa Allah sendirilah yang telah meletakkan beban ini ke atas kita, dan bahwa tidak ada tugas, sekecil apa pun, yang tidak berharga dalam pandangan-Nya. (John Calvin, Institutes of the Christian Religion, III. 10, disadur oleh syo)

 

Fasting does not of itself displease God; but it becomes an abomination to him, when it is thought to be a meritorious work, or when some holiness is connected with it.

   

"ALLAH BUKANNYA TIDAK BERKENAN PADA PUASA; NAMUN ITU AKAN MENJADI HAL YANG SANGAT IA BENCI BILA PUASA DIANGGAP SEBAGAI PERBUATAN YANG MENDATANGKAN PAHALA ATAU DIANGGAP DAPAT MENDATANGKAN KESUCIAN."

John Calvin.