RACUN PLURALISME DALAM IMAN KRISTEN

Sonny Prayitno

 

 

Salam.

Pluralisme sepertinya bukan hal yang asing dalam telinga kita. Namun, sayangnya sedikit sekali orang Kristen yang sadar terhadap bahaya dari Pluralisme.

Jika kita menilik dari sejarah timbulnya Pluralisme dalam kekristenan, adalah bermula dari kalangan Katolik, yaitu sejak dikeluarkannya Konsili Vatikan II yang berlangsung di bawah kepemimpinan Paus Yohanes XXIII yang dimulai tahun 1962 sampai 1965. Konsili ini menolak rumusan tradisional yang eksklusif, seperti yang dinyatakan dalam deklarasi mengenai hubungan gereja dengan agama-agama non-Kristen, bahwa: Mereka juga dapat memperoleh keselamatan yang kekal, yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Injil Kristen atau gerejanya, namun toh dengan tulus iklhas mencari Allah dan tergerak oleh anugerah, berupaya dengan perbuatan-perbuatan mereka melakukan kehendak-Nya sebagaimana diketahui melalui hati nuraninya. (Gereja, 2:15)

(Penyelamatan) bukan hanya untuk orang Kristen, tetapi untuk semua orang yang berkehendak baik, yang di dalam hatinya kasih karunia bekerja dengan cara yang tidak kelihatan. Sebab, karena Kristus mati untuk semua orang, dan dengan panggilan pokok manusia sebenarnya satu dan ilahi, maka kita harus percaya bahwa Roh Kudus dengan cara yang hanya diketahui oleh Allah, menawarkan kepada setiap orang kemungkinan untuk berhubungan dengan rahasia Paskah ini (Gereja dalam dunia Modern, 1:22).

Tokoh-tokoh Katolik yang turut menumbuhsuburkan Pluralisme ada 5 tokoh utama, yaitu: Hans Kung, Karl Rahner, Raimundo Panikkar, Stanley Samartha, dan Paul F. Knitter. Sedangkan dari Indonesia tokoh-tokoh Pluralis antara lain: Prof. Dr. phil. Franz Magnis - Suseno SJ, J.B. Banawiratma SJ, dll.

Sedangkan tokoh-tokoh Kristen (Protestan) yang turut menumbuhsuburkan Pluralisme yaitu: C.S. Song (Taiwan), Olaf Schumann. Sedangkan dari Indonesia tokoh-tokoh Pluralis antara lain: Iones Rakhmat, Eka Darmaputera, Th. Sumartana, E.G Singgih, Victor Tanja, dll.

Sekolah teologi kaum Pluralis yang terkenal di Indonesia adalah Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (STT Jakarta). BPK Gunung Mulia yang merupakan salah satu penerbit buku-buku Kristen di Indonesia juga turut menyebarluaskan pandangan kaum Pluralis di Indonesia. Buku-buku kaum pluralis terbitan BPK antara lain: Masihkah Benih Tersimpan, oleh Eka Darmaputera; Menggali Ulang Yesus Sejarah, oleh Roy Eckardt; Iman dan Politik Dalam Era Reformasi di Indonesia, oleh E.G. Singgih; Spiritualitas, Fundamentalisme Agama-agama dan Teknologi oleh Victor Tanja; Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia oleh Victor Tanja; Memandang Yesus, Gambar Yesus Dalam berbagai Budaya, oleh Anton Wessels; dll.

Jika pada gerakan Kharismatik & Pentakosta (Pantekosta?) yang ditekankan adalah bukan Teologi namun manifestasi Roh Kudus dalam  pengalaman hidup orang percaya, Pluralisme dalam tokoh-tokoh kekristenan umumnya berlatar belakang Liberal. Kaum Pluralis berusaha dengan keras untuk mengembangkan "ajaran baru" yang menurut mereka bisa diterima agama-agama yang tentu saja bersifat inklusif. Teologi agama-agama ini mereka sebut sebagai "TEOLOGI RELIGIONUM". Organisasi PGI menerima dengan bulat Teologi Religionum ini

(lihat http://www.pgi.or.id/balitbang/bal_06/02_index.html ).

Adapun beberapa ajaran dari kaum Pluralis antara lain:

*) menolak dengan tegas Christ-Centris (berpusat pada Kristus) sebab hal tersebut dipandang ekslusif, sehingga mereka mengembangkan ajaran yang Theo-Centris (berpusat pada Allah).

*) menolak Alkitab sebagai Wahyu Allah yang final. Menurut mereka, Allah menyatakan diri-Nya tidak hanya dalam suatu umat tertentu, melainkan kepada semua manusia dalam pelbagai konteks agama dan budaya yang ada.

*) menolak Misi Proklamasi Injil dan Misi Penebusan. Bahwa misi Allah bukanlah misi yang berkenaan dengan urusan-urusan yang bersifat rohani dan kekal. Itu adalah urusan Allah. Persoalan utama manusia bukanlah nanti, tetapi persoalan kini, yaitu berkenaan dengan masalah penderitaan umat manusia, kemiskinan, dsb. Maka kaum pluralis menafsir ulang misi dalam perspektif sosial (Social Gospel).


Berikut ini adalah kutipan pandangan-pandangan kaum Pluralis yang terambil
dari beberapa site internet:
--------------------------
Sumber:
http://www.islamlib.com/WAWANCARA/291202magnis.html

Prof. Dr. Phil. Franz Magnis-Suseno SJ
Bagaimana membedakan jalan keselamatan yang ditawarkan satu agama dengan agama lainnya?

Orang yang beriman, --misalnya saya beriman sebagai orang Kristiani-- tentu saja merasa yakin bahwa iman saya benar. Kalau tidak, tentu saja, saya tidak bisa disebut beriman. Ini mengandaikan bahwa orang beriman pada agama manapun kebanyakan begitu. Hal itu tidak berarti bahwa saya mengatakan bahwa semua agama lain itu salah. Agama lain itu adalah jalan-jalan lain yang sebenarnya juga membimbing pemeluknya menuju Tuhan. Jadi, saya tidak akan memberikan suatu penilaian tentang agama lain hanya karena saya happy di dalam agama saya sendiri.

Kesimpulannya, banyak jalan menuju keselamatan. Atau banyak jalan menuju Tuhan. Apa begitu?

Ya, dalam kenyataan memang begitu. Saya yakin betul adanya banyak jalan menuju keselamatan. Dan itu juga ajaran Katolik. Dalam Konsili Vatikan ditegaskan bahwa "orang dari semua jalan, asal mau hidup dengan baik, akan bisa menerima keselamatan Allah" []
---------------------------------


Sumber:
http://www.pgi.or.id/balitbang/bal_06/02_saa_xvii/01.html

Th. Sumartana
Yang menunjukkan arogansi dan sikap yang sangat partikularistis, dan hal itu dengan efektif ditembus oleh orang seperti Smith dan John Hick yang mengatakan bahwa ada suatu "revolusi berpikir" dalam masyarakat pluralistis ini, yaitu dari "geosentrisme" (baca: kristosentrisme) kepada "heliosentrisme" (baca: theosentrisme). Paradigmanya berubah dari eksklusivisme ke arah pluralisme. Kristologi semacam itu tidak bisa lagi dipakai untuk menilai secara positif agama-agama lain. Upaya mencari kebenaran menjadi upaya penghakiman agama yang memutuskan hubungan. Smith menunjuk, bahwa yang penting adalah keimanan kepada Tuhan, dan bukan kepada Kristus yang juga beriman kepada Tuhan. Jadi sumbangan pemikiran teologi Smith saya kira secara efektif telah mampu mengoreksi kelemahan dan keterbatasan dari teologi krisis atau neo-orthodoksi, atau teologi dialektisnya Barth dan Kraemer.
-------------------------------



Sumber:
http://www.pgi.or.id/balitbang/bal_06/02_saa_xvii/07.html

E.G. Singgih
Dalam teologi tradisional calvinisme, gambar Allah yang ada pada manusia sudah rusak oleh karena kejatuhannya dalam dosa. Baru oleh karya Yesus Kristus yang adalah gambar Allah yang sejati, hakikat manusia sebagai gambar Allah dipulihkan kembali. Tanpa bermaksud menentang teologi yang tradisional ini, ada baiknya kita menyadari bahwa dalam Kejadian 1-11 sendiri secara eksplisit tidak dikemukakan bahwa gambar Allah sudah rusak.

Mereka yang berpola pikir partikular akan mengatakan bahwa ucapan Yesus tetap unik oleh karena dirumuskan secara positif, sedangkan ucapan Khong Hu Cu oleh karena dirumuskan secara negatif, tetapi kurang dibandingkan ucapan Yesus. Di sini terjadi kerancuan berpikir yang menganggap sebuah rumusan yang berbentuk negatif sebagai bermakna negatif! Mengapa tidak menerima saja bahwa baik Yesus maupun Khong Hu Cu mengambil inspirasi dari kebenaran universal yang laku sepanjang masa?
---------------

Pada e-mail ini, saya sertakan beberapa attachment yang berisikan pandangan-pandangan kaum Pluralis Kristen dan Katolik yang semua berasal dari site internet. Saya sarankan juga untuk membaca buku TEOLOGI ABU-ABU, ditulis oleh Pdt. Stevry Indra Lumintang, M.Th., terbitan YPPII, Malang, tahun 2002. Buku Teologi Abu-abu setebal 518 halaman ini sangat baik pembahasannya, dan dapat membuka cakrawala iman kita tentang bahaya Pluralisme Iman.

Harapan saya agar racun Pluralisme yang sudah berada di sekitar kita, dapat kita antisipasi sedini mungkin, agar jangan sampai pada waktu sudah menjalar ke seluruh tubuh, kita baru sadar bahwa Pluralisme itu berbahaya!



Best Regards,
Sonny Prayitno