Nats: Matius 16: 21-26
Oleh: Pdt. Sutjipto Subeno
Melanjutkan pembahasan dari
kitab Matius 16, hari ini kita akan menekankan pada ayat ke 24. Tuhan Yesus
bertanya, “Siapakah Aku ini menurut kamu?” Dan Petrus menjawab, “Engkaulah
Mesias, Anak Allah yang hidup!” Ini merupakan pengakuan iman yang muncul dari
anugerah Tuhan sehingga Petrus berani menerobos dan membuat suatu kesimpulan
yang begitu tegas dan beresiko berat, karena saat itu, jika kalimat itu didengar
oleh orang-orang Yahudi dan Mahkamah Agama, Petrus bisa mati karena dianggap
menghujat Allah. Namun Tuhan Yesus mengaminkan ‘statement of faith’ dari
Petrus, kemudian memberitahukan bahwa Mesias akan menderita, mati dan
dibangkitkan pada hari yang ketiga. Salahkah Tuhan Yesus memberitahukan
hal ini? Apakah itu hal yang betul-betul akan terjadi? Ya, itu bukan sekedar
omong kosong. Saya percaya kalau kalimat itu dikatakan oleh Yesus dengan hati
yang sangat berat, karena itulah yang harus Dia lakukan untuk menyelamatkan
manusia yang berdosa. Tetapi justru kalimat itu ditanggapi oleh Petrus dengan
cara yang unik dan ‘Humanis’, yaitu dia segera menarik Tuhan Yesus dan marah,
“Tuhan, hal seperti itu tidak akan terjadi, kiranya Allah akan menjauhkan hal
itu daripadaMu!”. Sebuah kalimat teologis yang kelihatannya
begitu hebat, lalu Tuhan Yesus langsung menghardik dengan sangat keras,
“Enyahlah Iblis!”. Hardikan itu bukan diucapkan Yesus tanpa alasan, tetapi
karena Petrus berpikir bukan yang dipikir Allah, tetapi pikiran manusia. Punya
‘statement of faith’? Ya! Apakah Petrus tahu siapakah Yesus? Ya! Tetapi apa
yang dia ketahui secara ‘cognitive’ tidak mengubah paradigma pemikiran dia
dan ini bukan terjadi hanya pada Petrus saja. Maka pada ayat ke 24, Yesus
memanggil semua murid dan Dia mulai merombak konsep ini.
Menerima Yesus, mengikut Yesus, itu bukan sekedar ‘statement of faith’.
“Engkau adalah Tuhan, Engkau adalah Juruselamat.”, kalimat ini bagi saya
hanyalah fiktif, bersifat di luar dan belum mencapai iman yang sesungguhnya.
Statement yang hanya bersifat di luar masih bisa menjadi alat Setan, dengan cara
berpikir yang tidak beres dan tidak cocok. Banyak orang berpikir, kalau saya
sudah menerima Yesus, maka saya sudah menjadi Kristen.
Mengapa kita kadang susah sekali untuk mengerti dalam mendengarkan suatu
kotbah? Rasanya kotbah tsb sulit sekali. Menurut saya, yang paling inti adalah
masalah paradigma. Mengapa susah? Karena yang diajarkan di dalam Firman Tuhan
kontras terbalik dengan apa yang diajarkan oleh dunia, dan gereja yang tidak
berbasiskan teologi Reformed yang kokoh pasti menggunakan struktur yang
humanistik, hanya cocok dengan apa yang manusia inginkan. Alkitab mengatakan,
jika ingin mengikut Yesus, maka harus menderita, menyangkal diri dan memikul
salib! Orang lain berkata, jika mengikut Yesus, maka kamu akan senang, hidup
lancar dan kaya. Berbeda bukan? Perbedaan ini bukan masalah mengerti atau tidak
mengerti, tetapi cara berpikirnya yang kontras. Keduanya sama-sama mengikut
Yesus, tetapi pikiran dasarnya berbeda. Kalau mengikut Yesus, maka saya akan
hidup enak, tidak perlu berpikir susah-susah, langsung mengerti.
“Berbahagialah kamu yang kaya, celakalah kamu yang miskin!” Semua orang akan
mengerti hal ini tanpa perlu berpikir lagi. “Berbahagialah kamu yang miskin,
celakalah kamu yang kaya!” Kalimat ini jadi susah. Apanya yang susah? Padahal
tidak ada satu kata pun yang tidak dimengerti, tetapi mengapa setelah disusun
menjadi kalimat jadi susah diterima? Ayat ini (Luk 6:20-26) jarang dikotbahkan
karena tidak ada yang mau dengar, padahal itulah yang
dikotbahkan oleh Tuhan Yesus. Maka orang Yahudi pun sangat tidak suka
mendengar kotbah Yesus ini. Ayat-ayat seperti ini harus sering dibaca, supaya
cara berpikir kita diubah seperti cara pikir Tuhan.
1.
Siapa yang ingin mengikut Aku, dia harus menyangkal diri, memikul salib
dan mengikut Aku.
2.
Barangsiapa ingin mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya.
Ini logika yang membobol system yang normal. Ini yang namanya Parodoxical
Thinking
3.
Yang terakhir dan paling penting; apa artinya engkau mendapatkan seluruh
isi dunia, tetapi kehilangan nyawamu? Apa yang bisa diberikan ganti sebuah nyawa?
Sistem yang paling penting
yang memotivasi seluruh hidup kita disebut value system. Apa yang kita kerjakan
adalah apa yang menurut kita paling berharga. Manusia biasanya mau mendapatkan
seluruh isi dunia dan untuk itu dia rela kehilangan nyawanya.
Banyak orang yang berpuasa
untuk memaksa Tuhan mengikuti apa yang dia inginkan. Puasa sebenarnya adalah
untuk menyangkal diri. Ketika kita berani berkata ‘tidak’ pada diri, itulah
saatnya kita mulai mengerti kehendak Tuhan. Mengapa banyak orang yang sulit
mengerti kehendak Tuhan? Karena kita maunya kehendak kita sendiri. Ketika kita
bilang ‘tidak’ pada diri, itu memungkinkan apa yang Tuhan mau bisa digenapi.
Tuhan Yesus bukannya tidak mempunyai kemauan. Ia berkata, “Jikalau boleh,
lalukanlah cawan ini daripadaKu, tetapi bukan kehendakKu, kehendakMulah yang
jadi”. Itulah penyangkalan diri.
Kita mengerti kehendak
Tuhan saat kita berani berkata ‘tidak’. Bukannya kita tidak memiliki
keinginan, tetapi kehendak Tuhanlah yang lebih penting. Kehendak Tuhan dengan
kehendak kita berbeda kualitas. Apa yang kita mau berakibat destruktif untuk
kita, tetapi apa yang Tuhan mau akan memuliakan Dia. Ini satu sistem yang Tuhan
berikan, tetapi jika tidak kita jalankan, itu sama dengan bunuh diri. Saat kita
mulai menekankan penyangkalan diri, di sisi lain dunia kita mulai mengajarkan
aktualisasi diri.
1.
Pasti tidak mungkin kita mengerti kehendak Tuhan. Kita menjadi Kristen,
tetapi cara pikir kita tidak Kristen sama sekali. Tanpa penyangkalan diri, kita
akan menjadi orang Kristen yang humanis, yang hanya memikirkan diri sendiri,
melayani nafsu yang tidak ada habis-habisnya.
2.
Kita semakin hari akan digiring menuju kehancuran, karena ini menjadi
suatu rentetan dan dorongan yang besar di dunia. Pdt. Stephen Tong pernah
berkata, dosa dimulai dari ketidakmampuan penyangkalan diri yang pertama dan
akan menghancurkan kita di tingkat maksimum dari pertanggungjawaban kita. Satu
kali kita tidak bisa bilang ‘tidak’, itulah titik awal dari kehancuran kita.
Keberanian kita untuk menyangkal diri, di situlah yang membedakan kita
dari siapa pun. Menyangkal diri, itu untuk kebaikan kita. Tuhan mau di tengah
dunia yang penuh dengan tantangan nafsu, kita harus berani berkata ‘tidak’.
3.
Di dalam diri kita ini, sekalipun sudah bertobat, kita masih memiliki
daging dan darah yang mengandung bibit dosa, sehingga kita bukan melawan musuh
di luar, tetapi musuh di dalam diri. Jika kita tidak bisa melawan diri sendiri,
kita tidak bisa hidup sungguh-sungguh untuk Tuhan. Maka menyangkal diri menjadi
satu instrumen yang Tuhan berikan untuk kita, supaya kita bias mengalahkan
daging dan darah ini, dan itu merupakan kekuatan yang Tuhan berikan supaya
kita bisa lepas dari ikatan yang menjembatani kerusakan dosa masuk ke dalam diri
kita.
Kita tidak percaya
teori Somasema dari orang Yunani yang mengajarkan untuk menyiksa diri agar tubuh
hancur dan rohnya bisa lepas. Alkitab tidak mengajarkan seperti itu. Kita juga
tidak percaya ekstrem yang lain lagi, yaitu Hedonisme/ Epikurianisme, kebebasan
menikmati segala sesuatu karena besok kita akan mati. Tuhan tidak mengajarkan
kita untuk meliarkan diri, untuk menyiksa diri, tetapi untuk menyangkal diri,
sehingga dalam hal ini ada cara proporsional untuk mengatasi darah dan daging
yang masih mengandung bibit dosa ini. Jika kita memiliki kekuatan seperti ini,
kita akan menjadi saksi Tuhan yang tidak pernah dikunci oleh apa yang dunia mau,
tetapi kita akan dididik sesuai kebenaran Firman Tuhan. Sulitkah? Tidak, jika
paradigma kita sudah berubah! Menjadi sangat sulit jika kita masih mau
berkompromi dengan dunia kita. Marilah kita belajar untuk menyangkal diri,
menjadi suatu latihan rohani yang baik untuk hidup kita.
Transkrip oleh: Sian Hoa
Updated: 19 May, 2001