Nats: Matius 16: 13-20, 21-28
Oleh: Pdt. Sutjipto Subeno
Di dalam Mat. 16:21 Tuhan
Yesus pertama kalinya menyatakan misiNya sebagai Mesias. Ayat 21-23 dikatakan
bahwa Anak Manusia akan mengalami penderitaan, dibunuh, mati dan akan bangkit
pada hari yang ketiga. Ini berkaitan dengan teks sebelumnya tentang pengakuan
Petrus akan siapakah Yesus? Petrus mewakili teman-temannya yang lain mengaku
bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah yang hidup. Urutan ini menjadi urutan yang
penting yang juga ditulis berurutan dalam ketiga Injil Sinoptik (Mat, Mrk, Luk)
lainnya. Urutan ini menjadi urutan yang sangat significant. Kenapa? Karena tidak
semua di dalam Injil Sinoptik semua urutan dipasang sama. Masing-masing dari
penulis Injil mempunyai penekanan dan gaya penulisan yang berbeda. Tetapi jika
ada satu hal yang sangat penting, maka urutan itu tidak boleh diputuskan, supaya
konteks cerita tidak jadi pecah. LAI membagi bagian ini menjadi 2 perikop,
seolah-olah tidak ada hubungannya satu sama lain, padahal hubungannya sangat
erat. Pengakuan Petrus menjadi satu pengakuan yang sangat penting yang saya
sebut sebagai 'Pivotal Point', titik putar dalam seluruh sejarah. Ketika sejarah
Kristus hadir, maka orang mengerti bahwa Kristuslah nabi yang datang untuk
mengajar, menyembuhkan, mengusir setan dan mengabarkan Injil. Semua orang tahu
apa yang dikerjakan Kristus, dan celakanya banyak orang Kristen yang menekankan
terlalu banyak akan hal ini. Kenapa? Karena Tuhan Yesus tidak pernah turun ke
dunia hanya untuk melakukan hal ini. Semua nabi, bahkan orang-orang non-Kristen
pun dalam beberapa aspek bisa melakukan mujizat, menyembuhkan orang sakit,
dsb. Jika hanya untuk pekerjaan yang terlalu umum seperti itu, kenapa Anak Allah
harus turun ke dalam dunia? Tidak ada signifikansinya. Tetapi justru dalam titik
tertentu, Kristus baru membuka rahasia. Who am I? Saya adalah Mesias, Anak Allah
yang hidup dan inilah yang membedakan siapakah Kristus dengan 'siapa' yang lain.
Inilah signifikansi yang perlu dimengerti oleh anak-anak Tuhan. Maka setelah
Kristus mendapatkan pengakuan Petrus, Kristus langsung mengklarifikasi bahwa
bukan Petrus yang hebat yang bisa mengatakan pengakuan itu, tetapi Allahlah yang
membukakan-nya pada Petrus. Kalimat pengakuan Petrus tidak ada signifikansi
apa-apa jika diucapkan pada jaman sekarang, tetapi pada jaman Petrus, kalimatnya
itu bisa membuat ia mati dirajam. Kenapa? Karena itu penghujatan yang besar
terhadap Allah. Kristus disalib bukan karena Ia berdosa, tetapi karena Ia
mengaku sebagai Anak Allah. Kalimat itu adalah kalimat yang sangat beresiko,
maka ketika Petrus mengatakan hal itu, Kristus begitu menghargainya dan berkata
bahwa di atas batu karang itulah akan Kudirikan GerejaKu dan kepadamu akan
Kuberikan kunci kerajaan sorga. Kemudian Tuhan Yesus melanjutkannya dengan
menceritakan tentang tugas Mesianik, yaitu Anak Manusia harus pergi ke Yerusalem,
akan menderita, dibunuh, mati dan bangkit pada hari yang ketiga. Saat itulah
yang disebut sebagai Pivotal Point. Tentulah Kristus mengatakan hal itu dengan
hati yang begitu berat. Tetapi reaksi Petrus adalah begitu marah, dengan sikap
yang keras dan kalimat yang otoritatif dan 'teologis' berkata, "Allah akan
menjauhkan hal itu dan hal seperti itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau!"
Jika sebelumnya Petrus berkata bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah yang hidup,
apakah Petrus tahu siapa yang berdiri di hadapannya? Jawabannya paradoks.
Teorinya tahu, tetapi faktanya tidak tahu. Siapakah yang ada di hadapan Petrus?
Masakah Mesias akan mengalami mati dibunuh? Yesus adalah Anak Allah, tidak
mungkin hal itu akan terjadi.
Siapakah yang dihadapi oleh Petrus? Allah atau bukan? Kalau yang dihadapi adalah
Anak Allah, maka Allah adalah Allah. Orang Yahudi menyebut 'Anak Allah' adalah 'anak'
dalam pengertian esensial, sehingga menyebut Anak Allah akan mati. Anak dalam
pengertian esensial berarti dalam nature yang sama. Kita seringkali mengkaburkan
istilah 'anak', karena anak memiliki 2 makna; esensial dan ekstensial (perluasan).
Esensial adalah pengertian yang sesungguhnya. Kita seringkali tidak bisa
membedakan dan membuat cara berpikir kita menjadi kacau. Mis: anak ayam dan anak
dokter. Istilah yang dipakai adalah sama-sama 'anak', tetapi artinya berbeda.
Anak ayam pastilah ayam, tetapi anak dokter belum tentu dokter.
Anak Allah dalam pengertian Yahudi adalah arti esensial, berarti jika menyebut
Anak Allah, maka sama dengan Allah. Sehingga ketika Petrus berkata, "Kiranya
Allah akan menjauhkan hal itu!", maka ada konflik teologis dalam benak
Petrus. Kalau begitu, siapakah yang berdiri di depannya? Reaksi Petrus adalah
reaksi yang spontan dan natural, suatu jawaban yang orisinil. Tetapi saat itu
Kristus juga bereaksi begitu luar biasa. Apakah yang sebenarnya sedang terjadi
pada Petrus? Kemungkinan yang dipikirkan oleh Petrus adalah:
1. Dia tidak rela kalau Gurunya celaka.
Mungkin Petrus begitu mengasihi Gurunya atau mungkin juga ia memiliki motivasi
yang lain. Ini perlu digumuli, karena setiap aksi kita selalu ada latar
belakangnya. Setiap masalah kita bukan di tindakan dan cara berpikir kita,
tetapi sesuatu di belakang cara berpikir itu. Secara logika, tidak mungkin
Mesias akan dianiaya.
2.
Allah tidak mungkin akan membiarkan, karena Allah itu maha kuasa. Secara logika,
tidak mungkin Anak Allah akan menderita. Waktu Petrus berpikir seperti ini,
Tuhan Yesus menghardik dengan keras, "Enyahlah Iblis!" Mungkin jika
kita ada pada saat itu, kita juga setuju pada apa yang Petrus katakan, tetapi
nyatanya Yesus malah menghardik! Dalam hal ini, kenapa murid-murid bisa berpikir
demikian? Jika kita mempelajari ay. 24, Tuhan Yesus tidak hanya mengcounter
masalah itu pada Petrus, tetapi juga pada murid-murid yang lain. Masalah
itu bukan pada pribadi Petrus, tetapi pada seluruh murid dan mungkin juga
menjadi masalah kita hari ini. Ketika Yesus menghardik, pasti ada alasan di
belakang hardikan itu. Tuhan Yesus tahu bahwa Petrus jujur, tetapi jujur yang
salah. Sewaktu manusia berpikir logis dan manusiawi, justru di hadapan Tuhan itu
tidak wajar dan tidak manusiawi. Petrus telah menjadi batu sandungan bagi
Kristus. "You think not what God thinks, but man thinks" Cara berpikir
kita adalah cara berpikir manusiawi, bukan cara berpikir Allah. Berarti, problem
apakah yang sedang terjadi?
Ini adalah problem cara
berpikir kita. Petrus secara pengakuan iman sudah cukup. Sama seperti kita
dapat menghafal Pengakuan Iman Rasuli dengan baik, tetapi tingkah laku dan cara
berpikir kita belum tentu sama. Itu dua hal yang berbeda. Bolehkah kita mengaku
diri Kristen? Ketika kita mengaku diri Kristen, apakah cara berpikir kita
otomatis berubah menjadi Kristen? Apakah orang Kristen boleh mengabaikan
problematik pemikiran ini? Di sinilah celakanya! Sebagian besar anak Tuhan
berpikir, tetapi cara berpikir kita jauh lebih 'worldly' (duniawi) daripada
'Godly' (spiritual). Cara berpikir kita sudah diracuni oleh system pendidikan
dunia yang membuat kita tidak bisa kembali pada Alkitab dan tidak bisa mengerti
konsep Firman Tuhan.
Di ay. 25 kita akan belajar cara berpikir yang Tuhan sodorkan, yaitu
'Paradoxical Thinking', cara berpikir paradoks. Waktu kita mau berpikir Kristen,
cara berpikir kita masih diracuni oleh cara pikir dunia, akhirnya cara berpikir
kita tidak pernah beres. Mis: berapa banyakkah di antara kita yang sejak lahir
sudah dididik baik-baik secara Kristen oleh orang tua kita, sehingga sampai kita
dewasa memiliki konsep iman yang kokoh? Mungkin jumlahnya bisa dihitung dengan
jari. Sebagian besar orang tua Kristen tidak bisa mendidik anak-nya dengan iman
Kristen yang baik. Cara berpikir yang duniawi ini tidak hanya menjadi problem
Petrus, tetapi juga menjadi problem kita hari ini. Cara berpikir kita bukanlah
hal yang sederhana, tetapi akan mengekstensikan seluruh hidup kita. Seluruh
struktur hidup kita dibagi menjadi:
1.
Iman, hati yang paling dalam,
yang hanya bisa diubah oleh Tuhan.
2. Mind, cara berpikir kita.
Bahasa Yunani menggunakan kata 'nous', sama seperti yang dipakai dalam Roma
12:2, budi di sini bukan berarti karakter, tetapi akal budi (mind). Mind yang
sudah diisi oleh filsafat dunia inilah yang harus diubah. Celakanya justru kita
membawa filsafat dunia ini masuk ke dalam gereja, sehingga gereja menjadi rusak.
Efek lainnya adalah
orang Kristen banyak yang mematikan konsep berpikir. Banyak gereja yang
mengajarkan, kalau ke gereja pakai iman dan pengalaman, jangan pakai otak.
Memakai pikiran berasal dari setan. Alkitab PB berulang kali mengajarkan agar
kita memikirkan semua yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, .(Flp 4:8),
yang di dunia dikenal dengan Positive Thinking, tetapi itu sesat. Allah
mengajarkan Postive Thinking yang sama sekali berbeda dengan apa yang diajarkan
oleh Napoleon Hill, dalam bukunya "Think Not What God Thinks but Man
Thinks, Think and Grow Rich" Buku-buku positive thinking begitu banyak,
sementara orang Kristen berkata, jangan pakai pikiran! Kekristenan sudah begitu
rusak. Alkitab mengajarkan berpikir tunduk di bawah cara berpikir Tuhan. Inilah
cara berpikir Kristen. Jadi, ujilah cara orang Kristen berpikir. Jika tidak,
layakkah kita mengaku jadi orang Kristen? Siapakah kita? Berani memakai nama
Kristen, tetapi cara berpikir duniawi. Maka Allah berkata, "Enyahlah Iblis!"
Ini hal yang serius. Bukan sekedar pikiran yang manusiawi, tetapi ada setan di
belakangnya. Jika orang berpikir duniawi, tidak mungkin ia bisa berpikir seperti
yang Tuhan mau. Sementara apa yang Alkitab ajarkan begitu berkontradiksi dengan
yang dunia ajarkan.
Kotbah Kristus yang pertama (Luk. 6:20-24) sangat kontroversial sekali untuk
orang Yahudi. Jika kita merenungkan ayat-ayat tersebut, manakah yang benar?
Tentunya apa yang Alkitab ajarkan adalah yang benar dan membuat kita untuk
berpikir 'Godly'. Terutama sewaktu kita mengalami kesulitan, aniaya, kita merasa
Tuhan tidak adil pada kita. Kenapa orang Kristen harus mengalami penderitaan?
Padahal menurut Alkitab itu adalah hal yang wajar. Banyak orang Kristen yang
berteriak pada Tuhan saat mengalami kesulitan. Habakuk pun pernah berteriak hal
yang sama sejak 2600 th yang lalu. Tetapi Allah menyuruh diam. Diam di hadapan
Tuhan tidak berarti pasif. Habakuk merasa Allah tidak adil kepadanya. Tetapi
Allah meminta agar Habakuk taat dan melihat cara Allah bekerja. Setelah itu baru
Habakuk berubah total (psl 3) dan Tuhan mempersiapkan dia untuk menghadapi suatu
kesulitan yang luar biasa berat. Perubahan konsep paradigma yang drastis terjadi
dalam diri Habakuk.Tuhan sengaja mengijinkan Habakuk mengalami pergumulan yang
begitu berat supaya kita mempunyai contoh dalam Alkitab, bagaimana orang yang
salah konsep berpikirnya. Kalau saya ikut Tuhan, seharusnya saya lancar terus.
Tetapi Tuhan berkata, jika engkau mengikut Aku di dalam dunia yang jahat, maka
kejahatan dan penderitaan yang engkau alami adalah hal yang wajar. Yang perlu
dirubah adalah cara berpikirmu, bagaimana engkau berpikir sesuai yang Tuhan
pikirkan.
Kita bertanya pada diri kita, siapakah yang bisa merubah paradigma kita? Hanya
kita sendiri. Tuhan hanya menolong kita untuk berjuang merubah cara berpikir
kita. Justification dikerjakan dari Atas, tetapi Progressive Sanctification
dikerja-kan di dalam diri kita. Tuhan mau kita berusaha keras untuk berubah,
bukan dari penampilan, tetapi dari dalam, mulai dari perubahan paradigma.
Mintalah Tuhan merubah kita, mungkin sakit. Tetapi jika Tuhan sudah mengubahkan,
hidup kita akan terasa lebih ringan, karena apa yang kita pikirkan sudah sesuai
dengan pikiran Tuhan. Sewaktu kita menggumuli hal ini, kita bisa menjadi berkat
bagi orang lain karena cara berpikir kita berbeda dengan cara berpikir duniawi.
Inilah signifikansi dari Gerakan Reformed.
Dari pasal 16:24, Yesus berkata, jika ingin mengikut Aku, ia harus menyangkal
diri dan memikul salib. Kalimat ini adalah kalimat yang berat, namun pasti,
karena itulah yang terbaik untuk kita. Celakanya banyak orang Kristen yang tidak
suka dengan kalimat ini. Tetapi jika paradigma kita sudah diubah oleh Tuhan,
kita baru bisa melihat apa yang Tuhan ajarkan itu begitu indah. Marilah kita
menggumulkan hal ini.
Transkrip oleh: Sian Hoa
Updated: 19 May, 2001